KOLOMBO - Sekira seribu warga tuna rungu di Sri Lanka berdemo menuntut kesetaraan dan juga pengakuan sosial di masyarakat.
Mereka juga menuntut penambahan para penerjemah bahasa isyarat untuk mempermudahkan mereka dalam berkomunikasi.
Demonstran itu berasal dari Pusat Federasi Tuna Rungu Sri Lanka. Mereka berunjuk rasa di stasiun kereta api dan menunjukkan penderitaan mereka ke masyarakat.
Wakil Presiden Federasi Tuna Rungu Anil Jayawardena menyatakan, sekira 73.843 penderita tuna rungu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
"Kami menghadapi kesulitan yang cukup besar ketika kami pergi ke bank, pengadilan, atau pusat pelayanan kesehatan," ujar Jayawardena,seperti dikutip Associated Press, Jumat (29/7/2011).
Jayawardena juga menambahkan, situasi kini terlihat makin parah karena minimnya para penerjemah bahasa isyarat yang cakap.
"Hanya ada tiga atau empat penerjemah dan ini tidak membantu para warga penderita tuna rungu berinterasi di dalam masyarakat," tegasnya.
Jayawardena mendesak Pemerintah Sri Lanka agar mengambil tindakan efektif terhadap kasus ini karena seorang tuna rungu memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan juga pelayanan kesehatan.
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.