Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Jejak Hitam di Pintu Akhirat (2)

Adu Harga Demi Sebuah Liang Lahat

Insaf Albert Tarigan , Jurnalis-Selasa, 22 Maret 2011 |10:15 WIB
Adu Harga Demi Sebuah Liang Lahat
TPU Menteng Pulo (Foto:Insaf/okezone)
A
A
A

JAKARTA - JIKA Anda naik kendaraan dari Terminal Kampung Melayu ke arah Jalan Otista, Jakarta Timur, lalu belok ke kiri setibanya di lampu merah di depan pom bensin menuju kompleks perumahan Pesatuan Wartawan Indonesia, akan melewati Taman Pemakaman Umum Cipinang Besar Utara.

Areal pemakaman ini secara mencolok terlihat ketika Anda sampai di perempatan jalan sesudah melewati jembatan. Belok ke kiri menuju Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti dan jalan lurus menuju perumahan PWI. Saat berkunjung pada Rabu lalu, saya melihat pemakaman ini tak terawat, terutama di kompleks kuburan orang-orang China.

Dinding pemakaman penuh coretan, pagar kusam berdebu, bangunan makam pecah dan belumut serta ditumbuhi rumput liar yang tinginya di beberapa tempat kurang lebih mencapai 2 meter. Tak heran, tempat ini dimanfaatkan warga sekitar untuk mengembalakan puluhan ekor kambing. Selain tak terawat, kuburan ini juga mengeluarkan kesan angker. Memasuki areal pemakaman muslim, saya bertemu Amir, pemuda duapuluhan tahun yang ketika itu sedang makan siang, rambutnya ikal dan mengaku sebagai penggali kubur.

“Berapa biaya pemakaman jenazah baru di sini?”
“Kalau di sini. A I satu setengah juta, tempatnya enak, gampang kalau ziarah,” kata Amir, “Tapi kalau mau yang murah ada A II di belakang.”

“Mahal juga ya, enggak bisa kurang?”
“Ya bisa negolah, kita bantu, istilahnya kan kita juga mbantu.”

“Itu sudah sama penyewaan tenda waktu acara pemakaman?”
“Kalau sama tenda lain lagi, bisa nyewa tenda yang biasa buat kawinan atau tenda terpal itu.”

Keterangan yang nyaris sama juga saya terima saat menyambangi Kantor TPU Cipinang Besar yang berada persis di depan kompleks pemakaman. Suasana kantor siang itu sedang sepi karena pas jam makan siang. Saya disambut Indra, seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai koordinator lapangan atau mandor penggali makam dan Heru, anggota satuan pengamanan setempat.

Mendapat kabar perwakilan Dinas Pemakaman sedang tidak di tempat, saya menanyakan hal yang sama kepada Indra. Harga yang ditawarkan Rp2,5 juta, lebih mahal dari yang disampaikan Amir. Harga ini belum termasuk biaya penyewaan ambulans yang dipatok senilai Rp600 ribu dan biaya perawatan makam tiap bulan yang besarnya bervariasi antara Rp50 ribu sampai Rp200 ribu, tergantung keikhlasan ahli waris. Sekali lagi masih bisa dinegosiasi.

“Dua setengah juta itu di bagian mana pak?”
“Di A I, tempatnya di depan sini,” katanya seraya menunjuk ke arah makam.

“Waduh mahal juga ya pak.”
“Ya nanti pasti kita bantulah (harga masih bisa kurang). Itu kan soalnya sekalian kita tata juga nanti. Ini kan nggak beraturan.” Indra merujuk letak makam yang tampak berantakan. “Dulu koordinator sebelum saya, sembarangan aja. Asal dapat duit.”

Biaya pemakaman jenazah baru sebenarnya sangat murah dan sudah diatur secara jelas oleh Pemerintah Jakarta. Dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007
Tentang Pemakaman, pemerintah menetapkan retribusi pelayanan pemakaman yang besarnya sesuai Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006. Biaya pemakaian tempat pemakaman bervariasi dari nol sampai paling mahal Rp100 ribu untuk jangka waktu tiga tahun.

Blok AA I sebesar Rp100 ribu, Blok AA II Rp80 ribu, Blok A I Rp60 ribu, Blok A II Rp40 ribu,   dan Blok A IIII untuk jenazah telantar dan tidak diketahui ahli warisnya sebesar nol
rupiah alias gratis. Ahli waris bisa memperpanjang kontrak setelah tiga tahun pertama dengan membayar perpanjangan sewa lima puluh persen dari biaya sewa sebelumnya. Biaya perpanjangan meningkat menjadi 100 persen pada perpanjangan tiga tahun kedua dan seterusnya.

Pemerintah akan menggunakan kembali tanah makam untuk pemakaman ulang jika ahli waris tidak memperpanjang sewa tanah atau kedaluwarsa. Sementara biaya pemakaian kendaraan jenazah dan kelengkapannya dipatok seharga Rp100 ribu untuk  dalam kota dan Rp1.500 per kilometer untuk perjalanan ke luar kota. Namun di lapangan seperti penawaran Indra, biaya sewa ambulans bisa naik enam kali lipat jika tak ditawar.

Menariknya, di pemakaman Cipinang Besar kabar krisis lahan terasa masih sangat jauh. Jika ditanyakan kepada penggali kubur dan mereka yang mengaku selalu “siap membantu” pemakaman 24 jam, lahan masih banyak dan gampang dicari. Meskipun sejauh mata memandang, jarak makam satu dengan lainnya sudah sangat berdekatan. Hanya beberapa jengkal orang dewasa. Bahkan beberapa makam muslim sudah memasuki lahan untuk umat Budha.

“Baru,” kata Indra ketika ditanya apakah lahan yang digunakan baru atau menumpang.
Hal yang sama juga terjadi di pemakaman Menteng Pulo, satu pemakaman paling padat di daerah Setiabudi dan Tebet, Jakarta Pusat. Pemakaman ini terletak di wilayah strategis, dijepit oleh gedung-gedung pencakar langit perkantoran tak jauh dari wilayah Kuningan. Di antaranya Hotel The Park Lane dan Puri Casablanka. Pada tahun 1992,
pemerintah Jakarta setuju tukar guling tanah pemakaman ini seluas 10.646 meter persegi kepada PT Bakrie Swasakti Utama, perusahaan milik konglomerat Aburizal Bakrie. Sebagai gantinya, Bakrie bersedia menyediakan lahan seluas 2,5 hektare untuk pemakaman di Kampung Kandang, Jagakarsa, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Di Menteng Pulo, harga yang ditawarkan para penggali makam juga tak jauh beda dengan yang di Cipinang Besar, yakni Rp1,5 hingga Rp2 juta termasuk tenda, rumput dan batu nisan. “Enggak usah pakai tenda biar murah. Cuma Rp1,5 juta,” kata seorang pria paruh baya yang menyebut namanya “Banteng” dan juga mengaku siap dihubungi 24 jam. “Syaratnya cukup keterangan surat kematian aja dari rumah sakit, sama pengantar RT dan RW,” katanya meskipun sesuai aturan makam tumpang harus mendapat izin ahli waris.

Banteng mengatakan, sudah tidak ada lahan kosong di Menteng Pulo untuk pemakaman baru. Semua jenazah dikebumikan dengan sistem tumpang. Saya sempat berjalan beberapa ratus meter di areal  makam. Di sana-sini tampak makam yang tertutup semak belukar, pepohonan dan rumpu liar setinggi kurang lebih dua meter. Ada tukang ojek, warung makan, juga lagi-lagi kawanan kambing.

Harga yang sama juga ditawarkan saat saya mendatangi pemakaman Karet Bivak di Jakarta Pusat. Pemakaman Cipinang Besar, Menteng Pulo dan Karet  Bivak adalah tiga dari 78 tempat pemakaman umum di seluruh Jakarta yang totalnya menurut Suryo Wargo, Sekretaris Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta mencapai lebih dari 516 hektare. Luas Cipinang Besar mencapai 160.190 meter persegi, Menteng Pulo mencakup areal seluas 413.207 meter persegi dan Karet Bivak seluas 161.861. Meski para penggali makam kerap mengklaim masih banyak lahan baru yang bisa digunakan, data dari Wargo menunjukkan sebaliknya. Ketiga kompleks pemakaman
itu sudah penuh.

Dari 78 kompleks pemakaman, hanya delapan yang belum penuh. Berikut datanya, luas dalam meter per segi.

1.    Bulak Turi                    Cilincing                        Luas 4000
2.    Semper                         Cilincing                       Luas 575.660
3.    Tegal Alur I/II                Kalideres                      Luas 628.826
4.    Kampung Kandang    Jagakarsa                    Luas 229.416
5.    Tanah Kusir I/II             Kebayoran Lama        Luas 519.858
6.    Jeruk Purut                    Pasar Minggu              Luas 91.210
7.    Pondok Ranggon        Cipayung                       Luas 593.534
8.    Pondok Kelapa            Duren Sawit                  Luas 442.921
 
Selain itu, terdapat dua tempat pemakaman berupa  tanah kosong yakni Pegadungan, Jakarta Pusat seluas 65.943 meter per segi dan Rorotan, Jakarta Utara  seluas 16.700 meter per segi.

(Dadan Muhammad Ramdan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement