BANDUNG - Puluhan Seniman Bandung melakukan gerakan koin sastra terkait krisis keuangan yang menimpa Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Pengumpulan koin dilakukan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Bandung, Jawa Barat.
Uniknya, uang yang terkumpul akan disumbangkan ke PDS dalam bentuk mata uang Real Arab. "Kami sumbangkan dalam bentuk Real Arab. Bukan kami suka Real Madrid atau Real Betis, tapi Real Arab lebih riil dibanding Rp1 miliar rupiah," ungkap sastrawan Ahda Imran, dalam sambutan gerakan koin di GIM, Senin (4/4/2011) malam.
Hingga berita ini ditulis, dana yang terkumpul sudah Rp5.300.000 plus 6 PC, 4 scanner, printer dengan total Rp43 juta.
Gerakkan koin diawali dengan performance art teatrawan Arman Jamparing. Setelah itu, prosesi yang dibuka pukul 19.30 itu juga diisi dengan pembacaan puisi karya HB Jassin serta konser musik akustik dari para musisi seperti Mukti-mukti, Ganjar Noer, Kampak Ibrahim dan Egi Fedli.
Para seniman yang hadir di antaranya penyair Diro Aritonang, Sony Farid Maulana, Ahda Imran, Matdon, Dedy Koral, dan teatrawan Yusef Muldiyana. Selain itu, sejumlah aktivis juga hadir di antaranya dari Majelis Sastra Bandung (MSB), Forum Sastra Bandung (ESB), Hiski Komisariat Bandung, Komunitas GIM, Laskar Panggung, Kebun Seni, Opik Sunandar Sunarya, Jendela Seni, English Literatur Bandung (ELB), Bandoeng Mooi, Kelompok Seni Rupa Keruh, Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Jawa Barat.
"Dengan dana minim PDS HB Jassin jadi rusak, dan hancur. Artinya peradaban Indonesia terancam. Kami khawatir itu," kata Kyai Matdon, seniman yang juga Rois Amr Majelis Sastra Bandung (MSB).
Seniman Dedy Koral menyayangkan krisis di PDS. Pasalnya di sana tersimpan dokumentasi sastra semua penyair Indonesia sejak 1900-an. "Semua karya penyair ada di sana. Kalo ditutup, proses pembodohan terjadi," tukas Dedy, ketua Komunitas Kebun Seni Bandung. (abe)
(Hariyanto Kurniawan)