nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Faktor Ekonomi Diduga Jadi Motif Ilyas Karim

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Rabu 24 Agustus 2011 15:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2011 08 24 337 495844 F5cajz73Ti.jpg (Frans Mendoer/wikipedia)

DEPOK - Setelah ramai diberitakan media massa, nama Ilyas Karim kian melambung atas pengakuaannya sebagai pengibar bendera merah putih pertama, tak lama setelah Soekarno membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Bahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berniat memberikan hadiah sebuah apartemen di Kalibata City kepadanya. Padahal, tadinya Ilyas hidup susah dan hanya tinggal di bantaran rel kereta api.

Menanggapi kesangsian sejumlah pihak atas kebenaran pengakuan Ilyas, sejarawan JJ Rizal mengatakan, semestinya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terlebih dahulu meminta pendapat para ahli guna mengecek fakta sejarah.

“Kita tahu sebelumnya Ilyas Karim hidupnya merana, seharusnya bertanya dulu kepada orang-orang yang tahu sejarah, dimintai pendapat, motifnya ini adalah potret kesusahan hidup, semakin sulit untuk bertahan hidup,” tuturnya saat berbincang dengan okezone, Rabu (24/08/11).

Selain itu, Rizal mengungkapkan bahwa Ilyas juga diduga berbohong saat ia mengaku berasal dari kelompok laskar islam. Padahal, Ilyas Karim tinggal di Prapatan 31 dimana berkumpul kelompok garis kiri atau komunis.

“Ini kesalahan pemerintah, Ilyas Karim itu tinggal di kalangan komunis, seperti Sukarni yang notabene kelompok kiri, mana ada kelompok Islam di tengah kelompok komunis,” tegasnya.

Rizal mendesak media untuk menjadi jembatan atau mediator untuk mengkonfrontir Ilyas Karim dengan para sejarawan. Jika tidak, maka selamanya sejarah kemerdekaan Indonesia akan menjadi cacat historis.

“Yang kibarkan bendera hanya dua orang Latief yang pakai pakaian Jepang pegang pedang, dan Suhud yang pakai celana pendek, bukan Ilyas Karim, dia bohong, kalau memang Ilyas Karim seorang nasionalis maka harus bersikap satria dong, kan Indonesia punya lembaga arsip, ini potret kebobrokan sejarah,” tandasnya.

(abe)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini