nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Kebidanan Curhat Soal Profesinya

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Kamis 02 Februari 2012 14:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2012 02 02 373 568278 Dnf4Sb4rv9.jpg Image: corbis.com

JAKARTA - Bidan bukanlah profesi yang mudah untuk dijalankan. Tidak ubahnya dokter, bidan pun berperan penting dalam menyelamatkan nyawa, khususnya ketika persalinan.

Risiko dan tanggung jawab besar yang diemban seorang bidan, tidak membuat sejumlah mahasiswi akademi keperawatan ini gentar. Mereka justru merasa bangga atas jurusan kuliah yang dipilih.

Seperti dikisahkan mahasiswi Akbid Sandi Karsa, Makassar, Suhartini; mahasiswi Stikes Aisyiyah, Yogyakarta, Indah Rosmawati; dan mahasiswi Akbid Poltekes Medan, Junita Pardosi. Ketiga srikandi dari tiga pulau berbeda di Nusantara ini mengaku bangga atas profesi seorang bidan.

"Jadi kebanggaan tersendiri saat membantu seorang ibu yang bersalin. Apalagi ketika bayinya lahir, rasanya lega sekali. Seperti anak kecil yang mendapatkan permen," ujar Suhartini selepas acara pemberian beasiswa program Akademi Andalan di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (2/2/2012).

Hal senada diungkapkan Indah Rosmawati. Mahasiswi asal Kota Gudeg ini mengaku, membantu persalinan adalah hal yang istimewa. "Awalnya pasti takut, tapi bidan-bidan senior terus mendampingi. Jadi, lama-lama kami terbiasa," kata Indah.

Meski membantu proses persalinan merupakan pengalaman tidak terlupakan, ketiga mahasiswi ini juga pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan saat melakukan kerja praktik. Ketiganya pun sepakat, hal paling tidak menyenangkan adalah ketika sang pasien yang ditangani tidak mau menurut.

Belum lagi status sebagai seorang mahasiswa cenderung membuat pasien meragukan kamampuan yang mereka miliki. Untungnya, mereka memiliki trik jitu untuk mengatasi hal tersebut.

"Tetap sabar saja menghadapi pasien seperti itu. Kita jelaskan pelan-pelan dan akan ada bidan senior yang juga membantu menjelaskan kepada mereka. Jika mereka tetap tidak percaya, ya tugas itu akan diambil alih oleh bidan yang lebih senior," kata Suhartini.

Lain halnya dengan Junita Pardosi. Mahasiswi asal Kota Medan yang akrab disapa Jupe selama proses karantina program Akademi Andalan ini menyebutkan, percaya diri alias pede menjadi kuncinya untuk mengatasi keraguan pasien atas kemampuannya.

"Percaya diri saja. Jawab semua pertanyaan yang mereka ajukan kepada kita terkait kondisi mereka. Dengan begitu mereka jadi tahu kemampuan kita dan tidak meragukan kita lagi," kata Junita.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini