Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ibas: Kinerja Pemerintah Membaik

Misbahol Munir , Jurnalis-Selasa, 26 Juni 2012 |14:19 WIB
Ibas: Kinerja Pemerintah Membaik
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono
A
A
A

JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono yang biasa disapa Ibas menilai kinerja pemerintah secara keseluruhan tetap baik. Menurutnya, hanya 2 dari 12 indikator yang penilaiannya memburuk, yakni tekanan demografis dan kekerasan kelompok.
 
Sementara enam indikator yang nilainya membaik terkait penilaian atas masalah pengungsian, migrasi sumber daya manusia, pembangunan yang tidak merata, kemiskinan dan kemunduran ekonomi, pelayanan umum dan intervensi atau bantuan asing.
 
Hal itu dikatakannya menanggapi survei The Fund for Peace yang menempatkan Indonesia dalam kategori yang berbahaya atau terancam gagal.
 
“Secara keseluruhan, raport pemerintah tetap baik. Harapannya semua pihak objektif menilai hasil survei tersebut. Jika baik kita nilai baik dan jika belum maksimal tentu jadikan cambukan untuk bekerja lebih keras lagi,” kata Ibas kepada wartawan di DPR, Selasa (26/6/2012).
 
Sekjen Demokrat itu berharap pencapaian pemerintah yang semakin baik ini bisa terus ditingkatkan.
 
“Harapannya, apa yang sudah dihasilkan dapat terus ditingkatkan dan bagi indikator yang belum merupakan tantangan sekaligus PR bersama pemerintah,” tambahnya.
 
Sejauh ini, Ibas menilai kinerja pemerintah dari tahun ke tahun khususnya di bidang ekonomi pantas diapresiasi.
 
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5 % dan stabil dari tahun ke tahun. Cadangan devisa lebih dari $115 miliar dan APBN kita 1400 triliun. Pembangunan infrastruktur dan program untuk pemerataan pembangun terus berjalan. Kita harus apresiasi hal ini,” katanya.
 
Ibas menambahkan, selain pencapaian tersebut, rasio utang Indonesia masih cukup rendah dibanding negara-negara berkembang lainnya. Tak hanya itu, Indonesia juga ketiga terbesar di dunia untuk pertumbuhan kelas menengah.
 
“Di negara-negara berkembang rata-rata rasio utang terhadap PDB-nya 39%, sedangkan negara maju rata-rata rasio utangnya mencapai 109% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dibanding rasio utang Indonesia per April 2012 hanya sebesar 26,3%,” katanya.
 
“Masyarakat ekonomi kelas menengah di Indonesia juga meningkat. Seharusnya kita bangga karena  pertumbuhan tersebut berada di urutan terbesar ke tiga di dunia. Jumlah masyarakat kelas menengah ini nomor tiga terbesar di dunia setelah China dan India,” imbuh Ibas.
 
Di kancah internasional, Ibas justru menilai peran Indonesia semakin diperhitungkan. “Peran Indonesia di pentas internasional sangat strategis. Indonesia masuk ke dalam G20 dan emerging economy yang tumbuh paling cepat di dunia, dengan angka kemiskinan yang terus turun. Rating ekonomi kita juga terus membaik dan masuk ke dalam investment grade di 2012 dari lembaga ternama seperti Fitch, S&P dan Moodys. Seharusnya kita semakin optimis melihat pencapaian ini,” ungkap Ibas.
 
Untuk itu, Ibas mengajak semua pihak untuk proporsional melihat Index pengelompokan The Fund for Peace (FFP) 2012 tersebut. Ibas menilai, justru kondisi Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang benar dan harus dijaga bersama-sama oleh semua pihak. “Biarlah jadi masukan untuk kita semakin giat berusaha. Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY sudah on the right track. Tugas kita untuk menjaga dan terus bekerja keras agar Indonesia ke depan semakin tangguh dan sejahtera,” ujar Ibas.
 
Ibas mengakui ada sejumlah masalah yang perlu dibenahi agar Indonesia semakin baik ke depannya, yaitu, kepemilikan lahan yang kerap menjadi sumber konflik di masyarakat, maraknya aksi demonstrasi kelompok-kelompok minoritas, serta masalah kemiskinan yang kini terus diberantas pemerintah.

(Insaf Albert Tarigan)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement