nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dosen Fashion Design Korea Kagumi Batik dan Mutiara

(koran Sindo), Jurnalis · Kamis 27 September 2012 11:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 09 27 373 695712 wX4IUGZGnX.jpg Ilustrasi : Corbis

SURABAYA - Demam Korean style tak hanya menghinggapi kalangan musisi Indonesia untuk bergaya seperti band di sana. Gaya kehidupan di Negeri Ginseng tersebut juga ikut-ikutan mewabah. Lihat saja potongan rambut, penggunaan bahasa Korea, hingga tren fashion.

Tren yang kian popular di Indonesia ini juga menarik minat Universitas Ciputra (UC) untuk mendatangkan seorang dosen asal Korea, yakni Prof Soon Ku Kim. Namun, kehadiran Prof Kim, bukan untuk mengajar Bahasa Korea. Sejak tahun ajaran 2012, dia mengajar tentang fashion design.

Dilihat dari namanya, Prof Kim diidentikan sebagai seorang pria. Namun, saat bertemu, dia adalah perempuan yang sangat memperhatikan penampilan. Meski hanya mengenakan paduan rok dengan atasan t-shirt yang ditutup, serta memakai cardigan, penampilannya sangatlah elegan. Apalagi ditambah scraf yang menghiasi lehernya.

Tubuhnya yang langsing serta tanpa guratan keriput di wajahnya itu tak memperlihatkan usianya yang sudah berkepala lima. ”Usia saya sudah 53 tahun,” kata Prof Kim saat ditemui di sebuah restoran di Ciputra World Surabaya (CWS).

Menjadi dosen tamu di UC adalah pengalaman pertamanya. Dia yang didatangkan dari Departement of Design Dongseo University ini mengaku sempat kaget dengan budaya serta aturan ”hidup”di Kota Pahlawan. Sebab, kesehariannya di Korea dan di Surabaya sangatlah berbeda. ”Semua yang saya lihat di sini adalah hal baru,” ujarnya.

Tak sekadar kulinernya saja yang berbeda dengan lidahnya. Kebiasaan-kebiasaan dalam rumah juga jauh berbeda. Seperti kebiasaannya yang harus mengukus baju kotor terlebih dulu sebelum dicuci dengan deterjen. ”Awalnya, pembantu yang disediakan untuk Prof Kim ini juga kebingungan. Namun, karena itulah kebiasaannya, ya harus dituruti,” ujar Dekan Fakultas Industri Kreatif Freddy H Istanto yang menaungi jurusan Fashion Design.

Meski banyak perbedaan, Prof Kim tak pernah mempermasalahkan. Bahkan, dia bangga karena bisa berbagi dan bertukar pikiran. Bahasa Inggris-nya yang belum fasih membuat selalu ditemani oleh Joseph Soenarto, sang penerjemah sekaligus alumni UC saat mengajar di kelas.

Beruntung, Korean style begitu populer di sini, sehingga banyak muda-mudi yang sudah fasih bahasa Korea.”Saya sangat senang mengajar disini, karena mereka rupanya banyak yang bisa bahasa Korea, meski terbata-bata,” papar Prof Kim.

Kebanggan ini juga dirasakan Freddy. Dia mengaku takjub ketika mengetahui anak didiknya  mengenal bahasa Korea. ”Ketika saya tanya, mereka (mahasiswa) itu bisa bahasa Korea  dari film,” tukas Freddy sembari tersenyum.

Keanekaragaman budaya di Indonesia begitu menggoda Prof Kim. Saking tertariknya, dia selalu meluangkan waktu libur mengajarnya untuk jalan-jalan. Beberapa kota yang sudah dikunjungi adalah Yogyakarta, Bali, Lombok, dan Bandung. ”Indonesia ini benar-benar kaya. Saya ingin menjelajahi Indonesia. Tak hanya di Surabaya saja,” tuturnya.

Menurut Prof Kim, berbekal keanekaragaman yang ada, Indonesia juga bisa memengaruhi sebuah tren di negara lain. ”Seperti Korean style yang semakin digemari di kalangan Asia,” ujarnya..

Prof Kim mengaku, ada satu hal lagi yang membuatnya benar-benar jatuh cinta dengan Indonesia, yakni saat rasa penasarannya berlebih ketika melihat banyak orang di sekitarnya mengenakan busana batik. ”Ini sebenarnya kain apa, kok banyak sekali motifnya?” paparnya.

Saat mengetahui itu adalah batik, Prof Kim langsung melakukan riset pada sejumlah motif batik yang ada. ”Ternyata motif batik suatu daerah itu berbeda. Ada yang sederhana ada juga yang ramai,” ujar Prof Kim.

Saking sukanya, Prof Kim pun sudah mengumpulkan berbagai jenis kain batik yang siap di bawa pulang sebagai oleh-oleh. Nantinya, kain batik tersebut akan dijadikan sebagai tambahan bahan sejumlah desainnya. ”Selain menjadi dosen, saya juga designer yang punya bisnis fashion kecil-kecilan,” ungkapnya.

Pada fashion yang dibuat secara terbatas ini, katanya, kain batik yang dibawa pulang itu akan dijadikan tambahan dalam mendesain tas, scraf, dan rompi. Selain batik, mutiara Laut Lombok ini juga menyita perhatian Prof Kim.

Bahkan, dia memborong beragam roncean mutiara yang dijual di sana mulai dari kalung, giwang, serta gelang. Namun, roncean mutiara tersebut tidaklah langsung dipakai melainkan dibongkar lalu dironce lagi sesuai dengan desain yang diciptakan sendiri. ”Sebenarnya, roncean mutiara ini sudah bagus. Namun, masih bisa didesain lebih istimewa lagi,” imbuhnya.

Pengembangan yang bisa dilakukan pada roncean mutiara ataupun desain batik ini, ungkap Prof Kim, akan bisa lebih diterima di kalangan yang lebih luas lagi. ”Jika desain hanya dibuat untuk kesenangan lokal saja, desain ala Indonesia ini tidak akan dikenal oleh dunia internasional. Misalnya, mutiara dapat dipadukan dengan kerajinan perak Bali atau Yogyakarta,” kata Prof Kim.

EMI HARRIS

Surabaya

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini