Share

Resep Sukses Pendidikan Entrepreneurship ala UC

Margaret Puspitarini, Okezone · Kamis 14 Maret 2013 19:08 WIB
https: img.okezone.com content 2013 03 14 373 775958 ONWifFJMVf.jpg Ilustrasi : www.freeenterprise.com

JAKARTA - Mengubah mindset masyarakat untuk mandiri dengan berwirausaha bukan hal yang mudah. Ternyata, ada lho resep khusus agar pendidikan entrepreneurship bisa sukses. Deputi Direktur Akademik Univesitas Ciputra (UC) Ivan A Sandjaja akan berbagi formula khusus yang diterapkannya di UC.

Ivan menyebut, kesuksesan suatu pendidikan entreprenueship meliputi empat faktor. "Keempat faktor tersebut adalah mahasiswa, dosen, infrastruktur/kurikulum, dan lingkungan pembelajaran," ujar Ivan dalam National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR) di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dia menganalogikan empat faktor tersebut seperti sedang bertani. Untuk menghasilkan, hasil panen yang berkualitas, lanjutnya, tentu berawal dari bibit unggul, yakni mahasiswa. Kemudian, sumber daya yang mengolah pun harus berkualitas, dalam hal ini para dosen.

"Infrastruktur dalam bertani itu pun harus kita pikirkan dengan baik. Demikian pula dengan iklim pendukung. Tidak mungkin kita sukses bertani jika berada di daerah yang tandus. Jika salah satu faktor tidak terpenuhi, maka tidak akan tercapai. Kadang kita hanya berpikir satu faktor saja padahal itu sebuah kesatuan," tegasnya.

Dari segi mahasiswa, kata Ivan, pendidikan entrepreneurship tidak seharusnya menitikberatkan syarat masuk pada nilai layaknya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Dia menegaskan, pendidikan entrepreneurship tidak hanya dapat diakses oleh masyarakat berduit tapi juga dari kalangan bawah.

"Tidak jaminan mereka yang kaya bisa menjadi entrepreneur sementara yang miskin tidak bisa. Jika memang mereka memiliki mindset seorang entrepreneur, maka baik kaya ataupun miskin bisa menjadi entrepreneur yang sukses," ungkap Ivan.

Oleh karena itu, lanjutnya, para pengajar pendidikan entrepreneurship adalah seorang entrepreneur. Sebab, entrepreneur tidak bisa diajarkan tapi ditularkan. "Bagaimana dia mau menularkan ilmu entrepreneurship kalau dia sendiri tidak pernah mengalaminya?" paparnya.

Sementara itu, menurut Ivan, kurikulum dan infrastruktur pendidikan entrepreneurship harus mencakup pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Dari ketiga cakupan tersebut, tambahnya, segi afektif yang sering ditinggalkan para pengajar.

"Dari segi mindset dan keterampilan entrepreneurship, kemampuan anak-anak SMK tidak perlu diragukan lagi. Tapi mereka justru kekurangan kemampuan untuk mengomunikasikan ide. Padahal itu penting saat mereka tengah menjual ide bisnis kepada mitra nantinya," tandas Ivan.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini