Share

Rucita Jadi Model demi Skripsi

Senin 14 Mei 2012 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 14 373 628970 JpcivxCyUe.jpg Image: corbis.com

BAGI Rucita Permatasari, tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk lulus dari Universitas Ciputra (UC) sangatlah penting. Mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ini tidak ingin tugas skripsinya hanya berupa coretan dalam kertas lalu dibukukan.

Sehingga, bukanlah tema unik saja yang berusaha dituangkan, bahkan mewah. Salah satu ruangan di Studio Adventure, kawasan Jalan Nginden Intan Barat, Surabaya, mendadak berubah. Suasana ala penghargaan piala Oscar atau Grammy Award begitu terasa. Selembar karpet merah panjang begitu kinclong, dilengkapi dengan pembatas di sisi kanan dan kirinya. Layaknya bintang ternama yang tidak pernah lepas dari jepretan kamera, 12 model perempuan dan delapan model pria, berjalan tegap.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Satu di antara 20 model yang mengenakan gaun mewah ala putri dan pangeran tersebut adalah Cita, sapaan Rucita Pertamatasari. Dia tampil dengan gaun klasik putih gading dengan model potongan kemben pada bagian atas yang tersambung bawahan berpotongan A-line dengan aksen simpel. Penamilannya kian tampak mewah dengan tata rias wajah glamour dan rambut dicat cokelat terurai berhias bando beludru hitam. "Pemotretan ini adalah bagian dari penyelesaian skripsi," tutur perempuan berusia 22 tahun ini.

Jepretan dari kemewahan suasana red carpet ini bukanlah sekadar pemanis, melainkan menjadi bagian utama dalam skripsi yang mengusung tema Media Promotion Event. "Skripsi saya tidak hanya tulisan teori, paparan hasil penelitian, tapi dilengkapi dengan gambar atau foto pelengkap dari media promosi," tutur sulung dua bersaudara dari pasangan Jemmy Choko dan Ida Trisna Kusumawati ini.

Tema skripsi tersebut juga merupakan pekerjaan sampingan yang sudah digelutinya sejak setahun lalu. Selain kuliah, remaja kelahiran Surabaya, 24 Oktober 1990, ini juga berbisnis sepatu buatan tangan. Hanya saja, penjualannya dilakukan melalui website. Meski dipromosikan melalui website, produk sepatunya itu juga perlu media promosi.  "Semakin menarik isi media promosinya, semakin banyak pula orang yang tertarik," tutur Cita yang juga sering mendapatkan panggilan sebagai model ini.

Pada red carpet tadi, total 20 model termasuk Cita, mengenakan gaun klasik ala putri kerajaan di benua Eropa masa awal abad ke-19. Untuk mengaplikasikannya, dia menggandeng lima desainer. Untuk polesan wajah, ada lima make-up artist yang juga dipercaya menyulap model supaya terlihat "wah". Untuk melengkapi, seorang fotografer dan kameramen juga disiapkan untuk mengabadikan semua aksi dan keanggunan model di atas karpet merah.

Jika dihitung, tugas akhir Cita pasti memerlukan biaya yang sangat banyak. Mulai dari membayar puluhan model, desainer, make-up artist, fotografer, kameramen hingga menyewa studionya. Namun, Cita beruntung, produk sepatunya sudah diakui kualitasnya oleh beberapa pihak, terlebih pelaku fashion. Sehingga, untuk semuanya itu, Cita tidak merogoh kocek dalam-dalam. "Syukurlah, ada sponsor yang membayar ini semua," tutur Cita yang sedang mempersiapkan peragaan produk sepatunya di Singapura.

Meski ada sponsor, Cita mengaku tetap mengeluarkan biaya. "Lumayan juga untuk keperluan yang tak disangka," katanya tak mau menyebutkan berapa nominalnya lalu tersenyum simpul. Banyaknya biaya serta waktu demi fokus pada hasil maksimal bukanlah persoalan. "Dapat hasil maksimal saja, saya sudah puas, apalagi ini semua saya yang mengerjakannya," lanjutnya.

Empat bulan lamanya Cita mengkonsep tugas skripsinya. "Sebelumnya saya masih disibukkan dengan proposal dan data serta pengerjaan dalam bentuk naskah dulu. Baru terpikir untuk melengkapi dengan gambar dan foto pada dua bulan lalu," tutur Cita.

Beberapa desainer muda pun hadir dalam pemotretan. Yakni Natalia Soecipto dari Arcobaleno, dan pasangan Karla Jasmina dan Ariska Meliana dari Sposarika. Mereka yang merasa terpanggil untuk mensponsori Cita mengakui tak masalah jika busananya dikenakan dalam pemotretan tugas skripsi. "Toh, temanya juga sebagai media promosi. Dengan begitu, kami bisa menampilkan busana dan gaun rancangan kami di dalam materi tugas akhir Cita," ujar Natalia, designer muda.

Ada dua gaun yang disiapkan untuk pemotretan tersebut. Diberi tema Reflection, Natalia menampilkan busana paduan bahan kebaya yang didesain klasik ala kerajaan, sehingga di bagian bawahnya terlihat mengembang.

Begitu juga dengan pasangan designer yang juga si empu Sposarika. Ada lima gaun, dua di antaranya gaun untuk model perempuan, sisanya untuk pria. Diberi tema Classic Glam, satu dari tiga gaun itu dikenakan oleh Cita. "Karena ini memang koleksi di butik, jadi tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkannya, sekira satu bulan saja,"ujar Karla. (emi harris/koran si)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini