JAKARTA - Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz N Mehdawi menegaskan, cita-cita Hamas dan Fatah serta sejumlah fraksi di Palestina adalah sama. Mereka tidak memiliki perbedaan pandangan sedikit pun untuk mendirikan Negara Palestina.
Menurut Mehdawi, seluruh fraksi Palestina seperti Hamas, Fatah atau PLO memiliki satu suara dalam membangun Negara Palestina. Para pemimpin fraksi itu juga memiliki pandangan yang sama. Berikut tanggapan Dubes Mehdawi saat diwawancara oleh Okezone di kantor Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Senin (19/11/2012).
Bagaimana dengan tuntutan Hamas yang menginginkan blokade Gaza dicabut?
Prioritas utama kita adalah menghentikan kejahatan yang ditujukan terhadap warga Gaza. Israel pada dasarnya tidak boleh memblokade dan mengepung Gaza. Mereka juga tidak diperkenankan membatasi aktivitas warga kami di Gaza. Warga kami di Gaza harus menikmati kehidupan yang normal. Hanya itulah yang kami inginkan, kami sama sekali tidak ingin perang.
Lalu apa ada perbedaan pendapat antara Fatah dan Hamas mengenai kemerdekaan Palestina?
Tidak ada masalah mengenai Yerusalem, Tepi Barat dan Gaza. Hamas, seperti halnya Fatah dan PLO. Kita tidak memiliki perbedaan mengenai solusi pendirian negara. Seluruh warga Palestina menginginkan solusi dua negara.
Apakah pemimpin kedua fraksi itu juga memiliki pendapat yang sama?
Khaled Meshal (Pemimpin Hamas) sama seperti Bapak Mahmoud Abbas (Presiden Otoritas Palestina), dan sependapat dengan yang lainnya. Tidak ada perbedaan secara politik antara fraksi-fraksi Palestina.
Berarti, sumber masalah itu seluruhnya berasal dari luar?
Masalah utama justru ada di dalam tubuh Israel itu sendiri. Bila Amerika Serikat (AS), Dewan Keamanan PBB, dan Kelompok Kuartet Timur Tengah benar-benar ingin berubah, kami sangat gembira. Bila mereka tetap sama, ini akan menjadi masalah. Inilah yang dibahas oleh sejumlah negara Arab.
Untuk berapa lama lagi kami akan terus menunggu sebuah inisiatif damai. Kita harus menggapai hak kita cepat atau lambat. Perdamaian mungkin akan datang nanti atau cepat. Kita lebih menyukai cara yang damai. Namun bila cara damai itu tidak dapat dilakukan, kita akan melakukan cara lain. Kita akan melindungi diri hak kita dengan apapun caranya.
Apakah cara itu adalah perlawanan?
Tentu saja kita lebih memilih negosiasi dan cara-cara diplomatis. Tapi bila gagal, ya kita harus melakukan perlawanan dengan cara apapun yang memungkinkan. Dan banyak negara yang mendukung kami. Bahkan di Indonesia, banyak orang yang ingin berjuang bersama kami.
Aljazair dan Afrika Selatan menjadi merdeka karena perlawanan. Dan begitu pula Indonesia dan India. Kita tidak sendiri, kita juga tidak melakukan suatu hal yang aneh. Ini merupakan hak kita. Selama ini kita hanya menuntut apa yang patut kita dapatkan.
(Aulia Akbar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.