PONOROGO - Dokter ahli jiwa RSUD Harjono, Ponorogo, Jawa Timur, menganalisa, Eko Budi, pelaku pembunuhan anak kandungnya sendiri, Mega Pratama, mengalami psikopat atau antisosial.
Rohmadi Sularsono, dokter ahli jiwa, menjelaskan, Eko memiliki ciri seperti psikopat. Dia tidak memiliki rasa belas kasih dan penyesalan atas perbuatannya.
Psikopat, jelas dia, ditandai dengan sifat, semua keinginannya harus dilakukan dan tidak bisa dibantah. Selain itu, Eko tidak tampak menyesali perbuatannya. Saat diperiksa polisi pun dia tetap santai, tidak merasa bersalah.
“Psikopat itu juga terlihat dari teknik dia membunuh. Teliti, tenang, dan dingin dalam merencanakan pembunuhan anaknya. Dia menunggu waktu yang tepat,” jelas Rohmadi, Kamis (21/2/2013).
Hasil autopsi, di tubuh Mega terdapat bekas tusukan dan sayatan teratur, dalam, namun mematikan. Mega dibunuh oleh Udin atas suruhan Eko.
Sedangkan Mega, kata dia, berbeda dengan ayahnya. Bila Eko psikopat, Mega mengalami skizofrenia. Ini bisa dilihat dari cara dia membunuh dan mengubur korbannya, Suprihatin.
“Dia (Mega) spontan, brutal, dengan sekian banyak tusukan,” sambung Rohmadi.
Begitu sifatnya muncul, dua langsung bertindak brutal. “Kalau diajak ngomong akan menyimpang enggak karuan, tidak sistematis. Beda dengan psikopat yang bisa merencanakan, cerita dengan enak, teratur, sistematik, dan seterusnya,” terangnya.
Dugaan skizofrenia itu bisa dilihat dari hasil autopsi terhadap jasad Suprihatin. Korban dibunuh dengan cara brutal. Di tubuhnya ditemukan 17 luka tusukan dan kepalanya remuk.
Menurut Rohmadi, sifat brutal pada Mega timbul akibat pengaruh psikopat ayahnya. Dia selalu dikekang. Saat ada kesempatan, dia melampiaskan emosinya.
Seperti diberitakan, kasus pembunuhan berantai ini terungkap dari penemuan jasad Mega pada 6 Februari 2013 di tepi sungai dekat rumahnya. Kemudian terkuak, sebelum Mega dibunuh, dia lebih dulu membunuh Suprihatin yang tak lain kekasihnya. Dalam penyidikan diketahui, Suprihatin dibunuh pada 26 Januari 2013, lalu jasadnya dikubur di kamar tiga hari kemudian dan ditutup coran semen.
Motif sementara, Mega membunuh Suprihatin untuk menguasai hartanya. Sebagian barang berharga Suprihatin sempat dijual Mega.
(Anton Suhartono)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.