Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Peneliti Temukan 4 Spesies Capung Jawa di Gunung Kendeng

Iyang Nur CH , Jurnalis-Rabu, 18 Desember 2013 |22:06 WIB
Peneliti Temukan 4 Spesies Capung Jawa di Gunung Kendeng
Capung (foto: Live Science)
A
A
A

PATI - Pecinta capung yang tergabung dalam Indonesia Dragonfly Society (IDS) melakukan penelitian dan pendataan berbagai jenis capung di kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Para peneliti itu sudah empat hari melakukan perjalanan penelitian di pegunungan yang letaknya di sebelah selatan Kabupaten Pati. Selain mengidentifikasi jenis dan spesies, mereka juga mendokumentasi semua jenis capung.

Untuk mendokumentasikan penelitiannya para pecinta capung membekali diri dengan aneka kamera mulai dari jenis poket hingga profesional. Mereka memotret dan mencatat satu per satu spesies capung yang ditemui di sepanjang perjalanan.

Serangga dengan nama Latin Subordo anisoptera ini memiliki fakta yang unik dibandingkan binatang lainya. Capung memiliki banyak lensa di matanya atau disebut faset, sehingga akan sulit untuk mendokumentasikan apalagi memegangnya.

Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam proses penelitian. Pasalnya, untuk mendapatkan objek capung secara detail, para peneliti capung harus hati hati dan tidak melakukan pergerakan secara tiba tiba agar capung tidak terbang lalu menghilang.  

Dalam penilitian selama empat hari di empat lokasi mata air berbeda tersebut, para peneliti berhasil mengidentifikasi 29 spesies capung. Empat di antaranya merupakan endemik Jawa.

“Hasil pemotretan ini nantinya berfungsi untuk pendataan dan melengkapi penelitian capung di Indonesia yang saat ini jumlahnya sudah mencapai 700 spesies,” kata peneliti capung, Yunarsih, Rabu (18/12/2013).

Ketua IDS, Wahyu Sigit, mengatakan, ada fakta menarik dari binatang yang dapat terbang secara cepat ini, yakni capung merupakan jenis serangga yang identik dengan air bersih. Pasalnya, hewan ini hanya bisa berkembang biak di lingkungan air yang sehat.

“Sehingga bisa dijadikan indikator bahwa suatu wilayah masih terjaga ekosistemnya apabila masih terdapat banyak capung,” kata Wahyu.

Sejumlah nimfa atau anak capung yang hidupnya di air tidak bisa bertahan lama di air yang tercemar. Itulah salah satu alasan sekarang jarang ada capung di sawah karena airnya telah tercemar pestisida sehingga nimfa tidak bisa bertahan hidup.

“Hal ini berbeda dengan mata air yang berada di Pegunungan Kendeng saat ini,” tambahnya.

Dia menambahkan, habitat capung yang hidup liar membentuk koloni di kawasan hutan Gunug Kendeng terancam punah akibat rencana pendirian pabrik semen. Jika pabrik semen jadi dibangun akan mematikan sumber mata air bersih yang menjadi tempat capung bermetamorfosis. 

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement