Share

Sekelumit Cerita dari Gang Dolly

Nur Syafei, Sindo TV · Rabu 11 Juni 2014 13:17 WIB
https: img.okezone.com content 2014 06 11 519 997164 svpOYnI3Ao.jpg Massa mendukung penutupan Lokalisasi Dolly (foto: Antara/M Risyal Hidayat)

SURABAYA - Gemerlap lampu menghiasi sudut-sudut Perkampungan Putat Jaya alias Gang Dolly. Dentuman musik di setiap wisma membuat tempat itu semakain ‘panas’. Ditambah lagi, para Pekerja Seks Komersil (PSK) berpakaian serba minim tampak berjajar di ruang etalase di tiap-tiap wisma. Mereka menggoda para lelaki untuk diajak bercinta tentunya dengan bayaran.

Gang Dolly kedengarannya memang tak asing lagi di telinga bila ada yang menyebutkan. Gang Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Namanya memang terkenal seantero negeri bahkan sampai luar negeri.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Per bulan, perputaran uang di tempat itu mencapai miliaran rupiah. Bagaimana tidak, terdapat 1.449 orang PSK di dalamnya, belum lagi usaha lain seperti karaoke, pijat, dan warung makan minum. Penghasilan rata-rata orang di sana mencapai belasan juta per bulan.

Namun sudah sejak beberapa bulan ini, jumlah pengunjung Dolly terus menyusut. Mungkin para pengunjung takut, karena petugas Satpol PP rajin menggelar razia. Tak ayal mucikari, pedagang kopi, pemilik rumah karaoke, dan tentunya PSK mengeluh, karena pendapatan mereka juga ikut menyusut.

“Sekarang sedang tidak tentu, kadang laku kadang tidak, padahal dulu sehari bisa melayani tujuh orang,” ujar Anggrek salah satu PSK di sana.

Keberadaan Dolly sendiri memang sedang di ujung tanduk. Pemkot Surabaya berencana menutup total lokalisasi itu pada 18 Juni nanti. Rencana penutupan membuat mereka yang selama ini menggantungkan dari hidup dari bisnis esek-esek itu semakin keter-ketir.

“Saya pribadi masih membutuhkan banyak biaya untuk menyekolahkan anak dan menghidupi keluarganya di desa,” tambah Anggrek yang ikut diaminin temannya Melati.

Kedua PSK itu mengaku tidak mempunyai keahlihan dan keterampilan untuk berwiraswasta apalagi kerja di kantoran, karena mereka hanya lulusan sekolah dasar.

Mince, pengelolah wisma di Dolly juga mengaku keberatan atas rencana penutupan. Menurutnya, penutupan malah akan membuat bisnis esek-esek semakin tidak terkontrol. Apalagi, tidak ada jaminan jumlah ganti rugi yang sepadan dari pemerintah.

“Lokalisasi ditutup, namun para PSKnya masih menjajakan diri di jalanan. Hal ini justru  berbahaya karena PSK semakin liar tidak terkoordinir. Kesehatan PSK juga tidak terkontrol,” aku perempuan yang mempunyai tujuh anak buah PSK itu.

Penolakan penutupan juga datang dari para pelanggan Dolly berinisial Hr. Menurutnya, penutupan akan berimbas pada nasib PSK, mucikari, dan lainnya yang menggantungkan hidup di Dolly. “Kasihan mereka mempunyai anak dan keluarga,” ujar Hr.

Lain pula pendapat orang-orang yang berada di luar lingkaran Dolly. Ketua ormas Gerakan Surabaya Bersatu, Mukhtar, mendukung rencana Pemkot Surabaya menutup Dolly. Alasannya, tempat itu adalah sarang berbagai  kriminalitas, karena banyak pelaku kejahatan berasal dari daerah itu.

“Dolly juga sarang penyakit. Penutupan berarti menyelamatkan generasi muda khususnya di Surabaya. Jangan sampai anak cucu kita nanti terkena penyakit AIDS,” tegasnya.

Kendati sepakat dengan Pemkot, dia berharap penutupan diiringi dengan jaminan dari Pemkot atas nasib orang-orang yang menggantung hidup di sana. Salah satunya dengan memberi pelatihan untuk berwiraswasta.

“Saat ditutup, para PSK dan mucikari yang berasal dari luar kota, dipulangkan dan diberi uang pesangon untuk mandiri,” tambahnya.

Kabag Rehabilitasi Dinas Sosial Kota Surabaya, Dedy Sosialisto mengaku sudah gencar melakukan pelatihan baik bagi warga sekitar Dolly maupun para PSK dan mucikari. Di antaranya, pelatihan memasak dan menjahit.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengaku sudah menyiapkan dana Rp16 miliar bantuan dari Kementerian Sosial, untuk membebaskan tanah lokalisasi Dolly. Nantinya, area Dolly akan dijadikan sebagai kawasan sentra PKL dan taman bacaan.

“Di area itu diharapkan warga Dolly bisa menjalankan aktivitas bisnisnya, seperti berjualan aneka makanan dan produk -produk kerajinan,” aku Risma.

Dia optimis, penutupan lokalisasi membuat anak-anak di sana mempunyai masa depan dan bisa hidup normal seperti anak-anak lain di luar lokalisasi. “Karena anak-anak adalah masa depan bangsa,” pungkasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini