nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

NU Wakili Indonesia di Forum Perdamaian Dunia

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 05 September 2014 18:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 09 05 337 1034892 kIELAa0BqP.jpg Ilustrasi bendera NU dan merah putih (Dok Okezone)

JAKARTA - Nahdlatul Ulama (NU) terus melanjutkan kiprahnya dalam mempelopori perdamaian di dunia. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, NU akan ambil bagian dalam dialog agama dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh Communita di Sant’Egidio.

Kegiatan tahunan tersebut untuk kali ini diselenggarakan di Antwerp, Belgia, 7 – 9 September 2014 mendatang. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Marsudi Syuhud akan menjadi wakil NU, sekaligus Indonesia.  

“Tema dialog tahun ini adalah Peace of The Future, dan saya akan bawakan makalah dengan judul Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu. Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhan,” ungkap Marsudi di Jakarta, Jumat (5/9/2014).

 

Marsudi sebelumnya juga mewakili NU dan Indonesia dalam forum serupa yang diselenggarakan di Jerman dan Italia.

 

Marsudi yang menyandang gelar doktor di bidang ekonomi Islam akan menyampaikan makalahnya dalam sebuah panel bersama Mohammed Achaibi (Vice President of the Executive of Muslims, Belgia), Athenagoras (Orthodox Metropolitan Bishop, Ecumenical Patriarchate), Joachim Gnilka (Catholic Theologian, Jerman), U Uttara (Buddhist Monk, Kamboja), Anders Wejryd (Co-President of the World Council of Churches), dan Oded Wiener (Former General Director of the Chief Rabbinate of Israel). Panel tersebut akan dimoderatori oleh Mitchel Santier, Catholic Bishop dari Perancis.

 

Dalam makalahnya, Marsudi menjelaskan, dirinya akan mengungkapkan 5 hal yang dinilai menjadi pemicu peperangan, konflik, dan ketidakharmonisan terus terjadi di dunia. Pertama, ketika manusia kurang memiliki rasa takut terhadap Tuhan. Kondisi ini mengakibatkan banyak manusia justru menjual nama Tuhan untuk kepentingannya. “Ciri-ciri kelompok ini adalah mereka yang lebih suka berdebat, suka membicarakan nama Tuhan daripada kemanusiaan,” katanya.

 

Kedua, ketika manusia tidak takut mati. Kondisi ini mengakibatkan aksi-aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama tumbuh subur, meski sebenarnya mereka yang melakukan tersebut sedang menjalankan doktrin yang salah dari agamanya.

 

“Mereka yang memilih jalan ini adalah yang memiliki semangat tinggi dalam beragama, tapi pemahaman terhadap agamanya tidak setinggi semangatnya. Tugas kita bersama untuk aware, untuk menyadarkan mereka,” jelas Marsudi.

 

Untuk aspek ketiga hingga kelima adalah manusia yang  mengenal Tuhan tidak akan tertipu oleh harta benda, manusia yang mengenal Tuhan akan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi larangan Tuhan, serta manusia yang mengenal Tuhan akan marasakan manisnya iman.

 

“Untuk merasakan manisnya iman, maka seluruh yang dilakukan manusia harus dirangkai dengan manisnya kebersamaan, manisnya perbedaan, manisnya kemanusiaan, dan manisnya perdamaian. Itulah yang dinamakan ajaran Islam Rahmatan lil ‘Alamin,” tutup Marsudi.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini