Warga "Kampung Idiot" Kini Hidup Mandiri

Ahmad Subki, Sindo TV · Jum'at 05 September 2014 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 05 521 1034670 y3zfKXlUWL.jpg Keluarga Ginem, warga Kampung Idiot yang alami keterbelakangan mental (Dok: Global TV)

PONOROGO – Desa Karangpatihan di Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mendapat julukan Kampung Idiot karena sebagian besar warganya menderita keterbelakangan mental. Puluhan tahun roda perekonomian di kampung tersebut tak berjalan, hingga membuat warganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Tapi siapa sangka, warga kampung yang puluhan tahun lalu tidak bisa bekerja karena mengalami keterbelakangan mental dan hanya mengandalkan pemberian orang lain untuk makan sehari-hari, kini sedang giat-giatnya menggalakkan ekonomi kreatif.

Eko Mulyadi bersama tiga temannya adalah orang di balik bergeraknya roda perekonomian di Kampung Idiot. Berdasar dari rasa keprihatinan terhadap nasib warga kampung, mereka lalu mencari donatur dari pihak swasta.

Dana yang didapat digunakan untuk menggelar pelatihan usaha mandiri. Mulai memanfaatkan limbah kain perca menjadi keset, beternak lele, hingga beternak kambing.

Beragam kendala mereka hadapi selama pelatihan berlangsung. Kemampuan warga untuk mengingat yang sangat rendah, menyulitkan Eko dan teman-teman memberi penjelasan. Apalagi, perilaku warga seperti anak anak. Mereka bekerja semaunya, datang sebentar lalu pergi atau memilih bermain.

Namun berkat ketekukan dan ketelatenan selama tujuh tahun, pelatihan mulai membuahkan hasil. Warga akhirnya bisa mandiri. “Ada yang menekuni usaha keset, usaha ternak lele, dan ternak kambing. Tapi, tetap harus diawasi agar mereka serius bekerja,” ujar Eko Mulyadi saat ditemui wartawan, Jumat (5/9/2014).

Atas keberhasilannya membawa perubahan di Kampung Idiot, Eko kini menjadi kepala desa di sana. Dia juga mendapat beragam penghargaan dari bank swasta.

Tak kalah menakjubkan, ia kini memprioritaskan program untuk memutus mata rantai bayi lahir dengan keterbelakangan mental. Caranya, memperbaiki gizi warga khususnya yang tengah mengandung, pengawasan ibu hamil hingga melahirkan, sampai pengawasan pendidikan anak.

“Harapannya, semua bayi yang baru lahir dari pasangan idiot dan warga miskin tidak lagi mengidap idiot,” ujarnya penuh harap.

Data dari pemerintah desa, jumlah penderita keterbelakangan mental sebanyak 48 kepala keluarga terdiri dari 98 jiwa. Sepuluh orang di antaranya keterbelakangan yang fatal, seperti lumpuh, bisu-tuli, sehingga tak bisa bekerja sama sekali. Sementara jumlah warga sangat miskin sebanyak 291 kepala keluarga, selebihnya keluarga miskin dan menengah.

Di akhir obrolan dengan wartawan, Eko menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar lebih peduli dengan kondisi warga di Kampung Idiot. Ia tak berharap pemerintah selalu mengucurkan dana, tapi untuk ikut serta memasarkan dan menggunakan barang-barang yang diproduksi warga Kampung Idiot.

“Langkah kecil pemerintah, tapi artinya sangat besar bagi warga kampung sini,” pungkasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini