JEMBRANA --- Gusti Ngurah Parwata alias Ngurah Tyson, warga Banjar Pasar, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, terseret air banjir hingga ke tengah laut. Beruntung, setelah seharian bertahan di tengah laut pria berusia 32 tahun ini selamat sampai ke tepian pantai.
Penduduk Bali mengira musibah ini terjadi karena Ngurah Tyson melanggar pantangan di Hari Nyepi di mana selama 24 jam warga Bali diwajibkan menjauhkan diri dari berbagai aktifitas duniawi. Saat itu, warga mengira, Ngurah Tyson tak bisa selamat dari bencana melihat derasnya banjir dan arus di laut.
Kejadian itu bermula pada Sabtu 21 Maret 2015, saat itu Ngurah Tyson pergi untuk memberi makan hewan ternaknya yang diikat di dekat sungai setempat. Namun banjir tiba-tiba datang menyeretnya ke laut sejauh satu kilometer. Ajaibnya, pria kekar itu selamat dan terdampar di bibir pantai meski masih syok karena hampir seharian berada di tengah laut.
Ngurah Tyson mengaku, saat kejadian ada kekuatan di luar kemampuan yang mendorong dirinya sampai ke tengah laut. Tubuhnya terasa ringan dan mengambang di air. Dia pun berusaha dengan tenaga yang tersisa, berenang hingga sampai di tepian laut.
"Posisi saya sekira satu kilometer di tengah laut dari bibir pantai. Saya pasrah dan sadar saat itu saya mulai tenggelam,” ujar kepada wartawan, Minggu (22/3/2015).
Di tengah perjuangan hidup mati di tengah laut, Ngurah Tyson terus mencoba melawan derasnya gelombang laut dan berdoa untuk keselamatan istri dan kedua anak saya yang masih kecil.
"Selebihnya itu saya tidak ingat lagi,” tutur Ngurah Tyson.
Keajaiban datang, Ngurah Tyson merasakan badannya ringan dan mengambang di air laut. Dia berusaha berenang sebisa mungkin sehingga tubuhnya terkadang digulung ombak besar ke tepian pantai.
"Saya biarkan saja dan tubuh saya terdorong ke pinggir pantai. Saya juga dengar saat itu ada warga yang kebetulan berada di barat muara menghampiri dan mengira saya sudah mati,” ujar Ngurah Tyson.
Atas kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itulah, Ngurah Tyson tersadar akan kekuasaan Tuhan dan rasa bersalahnya. Dia yakin bisa selamat dari maut karena mukjizat dari Tuhan. Sebagai ungkapan syukur, bersama keluarga akan membuat ritual khusus di lokasi dengan upacara sederhana yakni 'nebusin'.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.