Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sosok Raden Saleh yang Menarik Perhatian Soekarno

Yudhi Maulana , Jurnalis-Jum'at, 27 Maret 2015 |11:31 WIB
 Sosok Raden Saleh yang Menarik Perhatian Soekarno
Sosok Raden Saleh yang menarik perhatian Soekarno (Foto: Yudhi Maulana/Okezone)
A
A
A

BOGOR - Pusara Raden Saleh menjadi salah satu perhatian presiden pertama RI Soekarno. Bahkan, Soekarno menginginkan pusara itu dirawat dan dipugar dengan layak.

Lalu, siapa sebenarnya Raden Saleh sehingga Bung Karno dan Isun setia menjaga makamnya hingga kini?

Raden Saleh lahir di Toerboyo, Semarang, pada 1811. Namun, ada versi lain yang menyebutkan ia lahir pada 1806, 1807, dan 1813.

Semasa kecil, Raden Saleh diasuh oleh keluarga pendukung Perjuangan Diponegoro, Raden Adipati Surohadimenggolo, yang merupakan pamannya.

Kecerdasan Raden Saleh dalam melukis pada usia tujuh tahun membuat dirinya diapekerjakan oleh Gubernur Jenderal asal Belanda, Robert Baron Van Der Capellen, di Cianjur. Ia belajar di bawah pengawasan AJ Payen, pelukis asal Belgia yang menjadi gurunya.

Pada 1829, Raden Saleh mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan lukisnya di Negeri Kincir Angin. Selama 20 tahun, ia berguru di Belanda. Lalu pada 1852, ia kembali ke Tanah Air.

Oleh-oleh luar biasa yang didapat selama di negeri orang ialah mendapat gelar maestro yang diberikan kalangan pelukis terkemuka di Eropa. Dengan predikat itu pula, Raden Saleh diangkat sebagai pelukis Kerajaan Negeri Belanda oleh Raja Willem III.

Sang Maestro wafat pada 23 April 1880. Meninggalnya Raden Saleh diberitakan Koran Java Bode yang terbit 28 April 1880. Pada koran itu dituliskan:

Pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnja Raden Saleh diiringi oleh banyak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer.

Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih; "AwIIoh hoema salim, Awlloh sajidina Moehammad Rasoeloellah."

Tak tertitung banyaknya karya sang Maestro yang mengundang decak kagum para perupa Indonesia maupun mancanegara. Lukisan dengan gaya naturalistik romantik milik Raden Saleh banyak yang menggambarkan perjuangan Rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, seperti Penangkapan Diponegoro, Antara Hidup dan Mati, serta Perkelahian dengan Singa.

Tiga lukisan Raden Saleh tersebut merupakan masterpieces yang ditujukan kepada rakyat Indonesia untuk bangkit berjuang meraih perdamaian, yang kadang harus diperjuangkan secara hidup dan mati.

(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement