“DPRD kan sudah konsultasi dengan pakar komunikasi. Itu ditelaah dengan Undang-Undang yang mengatur norma dan etika pejabat. Kesimpulannya, Ahok dinilai belum melanggar norma atau etika,” ujar Ketua Fraksi Golkar di DPRD DKI, Zainuddin kepada Okezone, Kamis (2/4/2015).
Ia menambahkan, meski belum melanggar etika dan norma pejabat, komunikasi Ahok di depan publik tetap dinilai buruk. Oleh karena itu, hasil konsultasi DPRD dengan pakar komunikasi meminta Ahok memperbaiki gaya komunikasinya.
“Kita tidak hanya minta masukan dari pakar komunikasi, namun juga dari sejumlah tokoh Jakarta. Rekomendasinya ya meminta Ahok memperbaiki komunikasinya,” ujar Zainudin.
Sebelumnya, gaya komunikasi Ahok disorot usai ia mengumpat dengan bahasa ‘toilet’ dalam sebuah wawancara yang ditayangkan secara langsung oleh stasiun televisi swasta. Sehari kemudian, Ahok minta maaf. Bahkan pilihan bahasanya kini lebih selektif. Misalnya mengganti kata ‘gue’ dengan ‘saya’ atau ‘aku’.
Menanggapi hal tersebut, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali memuji Ahok yang mengakui kesalahannya. Namun, Effendi tetap memperingatkan Ahok untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Sebab, itu akan merusak kredibilitasnya sebagai pejabat antikorupsi.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.