Permasalahan yang dihadapi pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur tidak mudah. Pemerintah sendiri telah menetapkan visi misi strategi pembangunan. "Indonesia yang berdaulat mandiri harus berlandaskan semangat gotong royong oleh karena itu dengan jalan trisakti tiga norma dalam pembangunan infrastruktur, pembangunan pengawasan ketimpangan kelompok masyarakat bawah, pembangunan yang menjadi daya dukung lingkungan tidak bisa dipisahkan. Semua itu sudah terangkum dalam RPJM 2015-2019 sehingga dapat mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri dengan kepribadian berlandaskan semangat gotong royong," paparnya.
Menurut Puan, sudah sejak lama Bung Karno berpikir tentang revolusi mental terutama saat era perjuangan kemerdekaan. Perjuangan tersebut sempat mandek lantaran beberapa faktor.
"Faktor pertama terjadi penurunan semangat jiwa revolusioner baik rakyat maupun pemimpin nasional dulu, lantaran masih melakukan warisan kolonial meniru pemikiran penjajah, sehingga masih ada penyelewangan di beberapa sektor yang dipicu sikap rendah diri dan tidak percaya akan kemampuan Indonesia," paparnya.
Puan mengatakan segala rintangan harus dihadapi dengan revolusi mental. Esensi revolusi mental mengubah pola pikir dan pandangan untuk gerakan kehidupan yang baru. "Sehingga hal itu harus dilakukan dari diri sendiri dengan semangat optimis kreatif," ulasnya.
Puan, untuk pertama kalinya menginjak tanah yang pernah menjadi tempat pengasingan Soekarno di Kabupaten Ende, NTT. Selaku Menko PMK, Puan melihat antusiasme masyarakat akan sosok sang proklamator. Saat peringatan Harkitnas inilah muncul wacana menjadikan Ende sebagai Kota Soekarno. “Alhamdulillah ini pertama kali saya datang menginjak Kota Ende, dahulu sudah beberapa kali direncanakan tetapi selalu gagal dan baru kali akhirnya saya bisa sampai di Kota Ende," paparnya.