Indonesia Harus Belajar dari Pecahnya Yugoslavia

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 10 Juni 2015 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 10 18 1163244 indonesia-harus-belajar-dari-pecahnya-yugoslavia-r5f6c2FNtP.jpg Dubes LBBP Indonesia untuk Serbia merangkap Montenegro Semuel Samson.

JAKARTA – Indonesia dapat belajar dari peristiwa pecahnya Yugoslavia agar tidak terjadi hal serupa di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Serbia Semuel Samson dalam forum debriefing yang diadakan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Luar Negeri (BPPK) di Ruang Nusantara Kompleks Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta.

Dubes Semuel mengaku sebelum berangkat ke Serbia, Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berpesan kepadanya untuk mempelajari sejarah Serbia dan Kosovo secara teliti. SBY ingin tahu apa yang menyebabkan sebuah negara bangsa yang multikultural seperti Yugoslavia sampai terpecah.

“Tolong pelajari bagaimana sebuah negara bangsa, negara majemuk porak poranda” kata Dubes Samuel menirukan ucapan SBY saat itu.

Dari struktur masyarakat, Yugoslavia yang terpecah memiliki kemiripan dengan Indonesia dengan percampuran berbagai etnis dan agama. Misalnya wilayah Slovenia dan Kroasia mayoritas beragama Katolik, Bosnia adalah negara mayoritas muslim. Sedangkan Serbia, Montenegro, dan Makedonia menganut orthodoks. Antara berbagi etnis dan agama ini tidak selalu terjalin perdamaian.

Semuel yang ditugaskan di Serbia pada 2011 ini menjelaskan, letak Yugoslavia yang berada di tengah Eropa membuat negara ini menjadi sebuah melting pot, yang menjadi tempat bercampurnya berbagai agama dan etnis sehingga gesekan antar penduduk tidak dapat terhindarkan. Wilayah Serbia tercatat mengalami 1.500 perang besar dan kecil.

“Ini pelajaran bagi Indonesia bagaimana sebuah negara bangsa yang peradabannya telah maju dari kita mereka bisa pecah apalagi kita,” lanjut sang Dubes, Rabu (10/6/2015).

Dia mengingatkan Indonesia untuk berhati-hati terhadap bahaya disintegrasi bangsa. Baginya selama Indonesia tidak menyatu sulit untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan masalah-masalah lain yang melanda negeri ini.

(hmr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini