Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Angin Kencang & Gemuruh Selingi Peresmian Museum Ahmad Yani

Randy Wirayudha , Jurnalis-Jum'at, 19 Juni 2015 |07:43 WIB
Angin Kencang & Gemuruh Selingi Peresmian Museum Ahmad Yani
Bekas rumah dinas Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani yang kini difungsikan sebagai Museum Sasmita Loka Pahrev A. Yani (Foto: Randy Wirayudha/Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Kesan sumpek hingga angker biasa jadi deskripsi berbagai museum yang membuat masyarakat tak punya animo besar untuk belajar sejarah di museum. Tapi tak demikian jika berkunjung ke Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.

Sapaan ramah dan hangat bakal ditemui di pos keamanan, Okezone disambut salah seorang penjaganya, Serma Wawan dari Dinas Sejarah TNI AD (Disjarhad) ketika memasuki rumah asri nan terjaga bersih dan rapi di bilangan Jalan Lembang Nomor D58, Jakarta Pusat, itu.

Setelah menulis daftar tamu, pengunjung biasanya diajak masuk lewat pintu samping dan diharuskan melepas alas kaki. Di ruang belakang ini jadi awalan pengenalan tentang Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, mulai dokumentasi film G30S (Gerakan 30 September 1965), hingga foto-foto Jenderal Yani semasa perang revolusi hingga menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Pun begitu dengan catatan riwayat ayah delapan anak tersebut yang lahir di Jenar, Purworejo (Jawa Tengah), 19 Juni 1922. Diperlihatkan pula di rumah itu tempat di mana Letjen Ahmad Yani tersungkur setelah ditembak Pasukan Tjakrabirawa pada subuh, 1 Oktober 1965.

Foto-foto, piagam, lukisan, hingga sejumlah souvenir dari para tamu asing Jenderal Yani dipamerkan di ruang makan, ruang tengah hingga ruang kerja ajudannya. Tapi ada satu pantangan, yakni tak boleh mengambil foto di ruang tidur Jenderal Yani.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement