“Iya, kamar bapak enggak boleh difoto. Enggak tahu sebenarnya kenapa, tapi katanya ada yang akhirnya hasil fotonya enggak jadi. Ada juga yang pernah sakit enggak sembuh-sembuh. Dibawa ke sini lagi, suruh minta maaf, baru sembuh,” beber putri keempat Jenderal Yani, Elina Lilik Elastria Yani, kepada Okezone.
Rumah ini sedianya merupakan rumah dinas Jenderal Yani yang mulai ditinggalkan keluarganya, tak lama pasca-peristiwa 1 Oktober 1965. Setahun kemudian, dijadikan museum dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.
“Ada kejadian unik waktu (peresmian itu). Patung bapak di depan rumah itu sebelumnya kan tertutup kain putih. Saat itu angin berembus kencang sekali, diselingi gemuruh geluduk. Tapi ketika kainnya disingkap dan dibuka, suasananya biasa lagi,” timpal putri ketiga Jenderal Yani, Amelia Yani.
Rumah ini memang tinggal kenangan, tapi ketujuh anak Jenderal Yani yang masih hidup, berusaha untuk tetap terus datang secara berkala, meski tak tentu waktunya.
“Warisan bapak itu semangat, prinsip. Itu yang saya telurkan pada anak-anak saya ketika mereka bimbang. Sama anak saya katakan, ‘Kamu harus seperti mbah kakung (Jenderal Yani). Prinsip dia pertahankan mati-matian terhadap apa yang dia yakini,” tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.