Menjadi tawasuth tidak gampang, sebab butuh basis ilmu. Siapapun yang tidak mau ngaji dan belajar, silakan bergabung ke ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Kedua kutub itu tidak perlu basis ilmiah. Asal ngotot, cukup. Adapun menjaga tawasuth ala ahlussunnah wajib dengan dasar ilmiah karena menggabungkan adillah naqliyyah (teks) dan hujjaj ‘aqliyyah (rasio).
Ini yang dilakukan para ulama besar. Imam Syafi’i menggabungkan Quran, Hadits, Ijma’, dan Qiyas. Imam Abu Hasan al-Asy’ari menggabungkan Quran, Hadis dan mantiq (logika) sehingga melahirkan ilmu kalam. Imam Ghazali melahirkan tasawuf yang seimbang antara syari’at dan hakikat. Tidak heran jika Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari kemudian menggabungkan semangat keislaman dan kebangsaan sekaligus. Jadi, memelihara sikap moderat, basis ilmunya harus kuat. Menjadi moderat tidak bisa ngawur dan asal-asalan.
Ada kritik bahwa Islam Nusantara tidak jelas secara definisi. Begitu tema ini diumumkan, segera mendapat banyak sambutan di mana-mana. Mereka yang terbiasa dengan olah pikir dan olah rasa beramai-ramai menyumbang pendapat dan argumen. Ini elok sekali. Datangilah muktamar, Anda akan menemukan banyak sekali karya ilmiah yang mengulas soal ini. Kritik tersebut menurut saya kurang pas. Islam Nusantara terutama bukan soal definisi, tapi laku keislaman di kepulauan nusantara yang usianya panjang sekali dan kaya tradisi.
Saya cenderung menempatkan Islam Nusantara sebagai suatu tipologi atau mumayyizat atau khashaish yang membuat kita sebagai muslim nusantara sangat khas keislamannya. Islam nusantara bukan madzhab, tapi bermadzhab. Jadi ini bukan aliran baru. Madzhab kita ahlusunnah wal jama’ah, sementara Islam Nusantara adalah mumayyizat-nya, tipologi Islam yang kita warisi dari ulama-ulama Nusantara.
Di Timur tengah, meski sama-sama sunni, masalah sedikit saja bisa jadi perang saudara dan tidak mudah dilokalisir dan sulit diselesaikan. Sementara sunni di sini kan tidak begitu. Contoh gampang Islam Nusantara adalah tradisi lebaran. Meski idul fitri dikenal oleh umat Islam seluruh dunia, tapi keindahan tradisi berlebaran hanya ada di nusantara ini. Jadi, lucu kalau ada yang ngotot menolak Islam Nusantara, tapi ketika idul fitri tetap mudik ke kampung halaman dan sungkem-sungkeman, makan ketupat segala.
Nah, dengan mumayyizat inilah, kita mendapat jalan keluar dari kemelut antara negara sekuler dan negara agama. Indonesia bukan salah satu dari kedua kutub ekstrim itu. Dan sejak awal, NU sangat bersungguh-sungguh mendirikan dan membela kesatuan Republik Indonesia. Kalau tidak belajar dan tidak memiliki fondasi ilmu, sulit memahami yang begini ini.
Muaranya NKRI?