Mursyid dan keenam rekannya berjalan tanpa alas kaki dari Baduy Dalam ke Jakarta. Jalur yang dilintasinya adalah melalui Kampung Ciboleger, Rangkas, Banten, menyusuri rel kereta sampai tiba di Jakarta. Mereka memang dilarang menggunakan moda transportasi bermotor saat bepergian ke mana pun.
Di Jakarta, Mursyid dan rombongannya bermalam di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Dapat undangan khusus. Ya bisa dikatakan begitu, leluhur juga ikut beserta memperjuangkan bangsa," kata Mursyid.
Ia mengaku bahagia setelah mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi pagi tadi. "Ini bagus sekali, sangat berbahagia. Sesuai apa yang dianjurkan bapak Presiden itu merupakan harapan kami. Baduy dalam lima orang, luar dua orang, nanti ada aturan seperti apa saya kurang tahu," terangnya.
Dia pun berharap agar Presiden Jokowi bisa memberikan kebijakan khusus untuk suku-suku adat agar bisa lebih sejahtera dalam mejalankan kehidupannya. "Sekaligus kami merasa hak-hak adat kami, identitas utama adalah KTP, kami mohon agama (kepercayaan) kami Sunda Wiwitan dimasukan, kami Baduy sesuai musyawarah. mohon disampaikan supaya ada respons positif dari bapak presiden untuk pertiimbangan dari bapak presiden," pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.