Namun begitu, Ryamizard tidak menyambut baik rencana rekonsiliasi pelanggaran HAM masa lalu terhadap anggota keluarga PKI yang terbunuh. Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan disebutkan memunculkan rencana tersebut.
"Masalah rekonsiliasi, masa lalu buang jauh-jauh. Kalau kita terus mengingat masa lalu, kapan kita majunya?," sambung putra pejuang Mayjen (Anm) Musannif Ryacudu tersebut.
Ia menganggap, rekonsiliasi tak perlu dilakukan. Ia menggarisbawahi pemberontakan PKI sebagai dalang kerusuhan.
"Kita pakai otak saja. Siapa yang lebih dulu membunuh para jenderal itu? Siapa yang harus minta maaf? Sudahlah, kita bangun bangsa ini ke depan. Enggak usah lah rekonsiliasi. Kalau kita selalu mikir dendam terus, kapan kita majunya?," tandas Ryamizard.
(Randy Wirayudha)