WASHINGTON – Setelah tersangkut kasus bocornya e-mail, Hillary Clinton yang merupakan calon presiden dari Partai Demokrat akhirnya meminta maaf. Hal itu dilakukan setelah hampir di setiap interview yang dihadiri, Hillary selalu menolak meminta maaf atas insiden tersebut.
“Itu memang sebuah kesalahan, dan saya meminta maaf karena itu. Saya siap bertanggung jawab,” kata Hillary, dalam wawancara dengan ABC News, Rabu (9/9/2015).
Bahkan pada tengah malam setelah acara tersebut, dia kembali membuat catatan untuk meminta maaf kepada pendukungnya melalui Facebook.
Selama ini Hillary selalu memberi argumen bahwa dia tidak merusak protokol keamanan nasional Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan e-mail di luar yang telah disediakan pemerintah.
Hillary sempat menolak menyerahkan isi e-mail tersebut kepada Departemen Luar Negeri AS. Pada akhirnya, dia menyerahkan hardcopy dari e-mail tersebut berjumlah 55.000 lembar yang terindikasikan berhubungan dengan pekerjaannya ketika masih menjadi Menteri Luar Negeri AS.
Salah satu contoh e-mail yang bocor adalah ketika Hillary mendesak Julian Assange untuk tidak memuplikasikan isi dari diplomatic cable (pesan rahasia yang sering dikirimkan atau diterima oleh kedutaan kepada negara asal kedutaan tersebut).
Sering kali bocornya e-mail ini, dijadikan senjata bagi beberapa kandidat calon presiden dari Partai Republik lain untuk mendiskreditkan Hillary.
Sering kali terbukti kampanye itu berhasil untuk mendiskreditkan Hillary. Contoh bukti polling terbaru yang diadakan oleh Universitas Quinnipiac, mencatat 61 persen pemilih menyatakan bahwa Hillary adalah sosok yang tidak bisa dipercaya dan kurang jujur.
(Hendra Mujiraharja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.