Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Usul Gaji Presiden Naik, PDIP Lupa ketika Berkuasa

Arief Setyadi , Jurnalis-Sabtu, 19 September 2015 |07:00 WIB
Usul Gaji Presiden Naik, PDIP Lupa ketika Berkuasa
PDIP (Foto: Ilustrasi)
A
A
A

JAKARTA - Mungkin sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) lupa diri ketika partainya sudah berkuasa. Di rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), partai berlambang kepala banteng moncong putih ini begitu keras menolak kenaikan gaji bagi SBY.

Namun kini, usulan kenaikan gaji bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pertama kali justru dilontarkan sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di DPR. PDIP memang diketahui selaku partai utama pengusung Presiden Jokowi.

"Sekarang PDIP tengah berkuasa, jadi dia lupa pernah jadi oposisi. Jadi memang banyak partai-partai ini lupa bahwa apa yang mereka tolak ketika jadi oposisi dulu. Ini menunjukkan secara umum program partai kita ini sangat pragmatis, sangat situasional," ujar pengamat politik Arya Fernandes kepada Okezone, Sabtu (19/9/2015).

Menurut Arya, sikap PDIP ini bukan kali pertama terjadi, karena ketika kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), PDIP juga menunjukkan hal yang sama. Ketika menjadi oposisi mereka mati-matian menolak kenaikan harga BBM, namun kini justru sebaliknya ketika Presiden Jokowi berkuasa.

"Masalah kenaikan BBM juga begitu kan (PDIP), situasional dan pragmatis. Itu penyakit kekuasaan, jadi lupa diri, dia dulu lupa pernah jadi oposisi," tuturnya.

Sementara itu, ketika Okezone meminta konfirmasi terkait pendapat tersebut, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu tak berkomentar. Adian yang hanya bersedia di wawancara melalui Blackberry Messanger (BBM) ini hanya membaca pertanyaannya saja tanpa memberikan komentar. Sedangkan Trimedya Pandjaitan tak bisa dihubungi melalui sambungan telefon.

Usulan kenaikan gaji bagi Presiden Jokowi pertama kali dilontarkan anggota Fraksi PDIP Tagoer Abubakar mengusulkan gaji Presiden Jokowi naik hingga Rp200 juta. Bukan hanya dia, sejumlah politikus PDIP lainnya seperti Trimedya Pandjaitan juga menyatakan hal serupa.

Sementara itu, beda pendapat diutarakan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyatakan, kalau keadaan saat ini bukan waktunya untuk menaikkan gaji presiden. Dirinya menekankan agar lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan rakyat dan kedepankan revolusi mental melalui gerakan hidup sederhana.

Presiden Jokowi sendiri sudah menanggapi mengenai usulan tersebut. Dirinya merasa malu bila harus membicarakan soal kenaikan gaji di tengah melemahnya perekonomian Indonesia.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement