nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sosok Petani Salim Kancil yang Haknya Dirampas

Nurul Arifin, Jurnalis · Selasa 29 September 2015 11:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 09 29 519 1222638 sosok-petani-salim-kancil-yang-haknya-dirampas-T9mxUtoOTf.jpg foto: istimewa

SURABAYA – Bagi warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, nama Salim sudah tidak asing. Pria berusia 40 tahun ini sangat dikenal warga setempat dan akrab disapa Kancil.

Entah dari mana nama Kancil bisa disematkan kepada ayah dari dua anak ini. Mungkin karena postur tubuhnya kecil sehingga dipanggil dengan sebutan Kancil.

Sehari-hari, Salim Kancil adalah seorang petani penggarap sawah di Desa Selok Awar-awar. Sawah yang digarap oleh Salim Kancil berada tidak jauh dari lokasi penambangan pasir ilegal yang sempat berkedok dengan pengembangan pariwisata batu pecah, Lumajang.

Tim Advokasi Laskar Hijau A'ak Abdullah al Kudus mengatakan, Salim Kancil adalah sosok petani biasa di Desa Selok Awar-awar. Salim merupakan salah satu warga yang merasakan dampak dari penambangan pasir ilegal di Kawasan tersebut.

"Sawah yang digarap oleh Pak Salim menjadi tandus karena aktivitas penambangan pasir ilegal itu. Air laut merembes ke sawahnya sehingga tidak bisa ditanami. Belum lagi debu-debu yang berterbangan akibat lalu lalang alat berat untuk penambangan pasir ini," kata A'ak kepada Okezone, Selasa (29/9/2015).

Tinggal di Desa Selok Awar-awar, Salim ditemani istri dan dua anaknya. Kehidupan di desa dilakukan seperti layaknya warga petani lainnya. Salim memang menikah muda sehingga di usia saat ini, ia sudah memiliki cucu.

"Biasanya kehidupan di desa kan menikah muda. Banyak orang yang seusia saya sudah memiliki cucu," kata A'ak.

Menempati di lingkungan desa, Salim Kancil juga tak lepas dari kehidupan sosial masyarakat. Salim melihat akibat penambangan pasir illegal ini muncul ketidakadilan yang dirasakan oleh warga desa yang lain. Ia pun terpanggil untuk menyuarakan kebenaraan dengan melakukan protes terhadap aktivitas tambang pasir ilegal itu.

"Pak Salim ini orang pertama kali yang melawan dan aktivitas penambangan pasir ilegal ini. Orangnya tegas dan berani menyuarakan hingga menjadi pelopor terbentuknya Forum Komunikasi Masyarakat Desa Selok Awar-awar," jelasnya.

A'ak juga menepis kabar yang beradar bahwa Salim Kancil adalah tokoh preman yang tidak 'kebagian jatah' karena aktivitas penambangan pasir ilegal itu. Menurutnya, perjuangan Salim Kancil ini murni karena tidak sepakat dengan adanya aktivitas yang merusak lingkungan.

"Tidak benar itu. Dia murni berjuang tidak ada embel-embel apa pun. Rupanya perjuangan Salim Kancil berujung maut yang merenggutnya," jelas A'ak.

Salim Kancil merupakan korban pembantaian karena protes penambangan pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar. Salim tewas setelah diseret dari rumahnya ke balai dsetempat dan kemudian dibantai di jalan permakaman desa. Di sekitar jenazah Salim Kancil tergeletak ditemukan sejumlah batu berserakan dan pentungan kayu. Salim kancil tewas bersimbah darah dengan posisi telungkup.

(MSR)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini