YOGYAKARTA - Fransiskus Subihardayan (22), korban selamat dalam jatuhnya helikopter di Danau Toba, Sumatera Utara, terus berdoa saat kejadian. Usai berhasil keluar dari helikopter itu, ia hanya bertahan hidup dengan minim air danau.
Ditemui di rumahnya di Dusun Tegal Boyan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Frans sudah tampak sehat. Ia bahkan sudah bisa bergurau dengan ibunya, Fransiska Sri Handayani.
Setelah itu, ia menceritakan pengalamannya bertahan hidup selama tiga hari dua malam di Danau Toba. Saat itu kejadiannya begitu cepat.
Frans bersama pamannya, Nur Haryanto, berjalan untuk mengambil helikopter dari salah satu penyewanya.
Saat pulang menggunakan heli buatan tahun 1999 itu, tiba-tiba ada kabut pekat. "Saat menyeberang (kabut) itulah heli jatuh. Tiba-tiba banyak kabut. Saya tidak tahu kenapa, karena tidak pakai headset intercom, saat itu ketinggian sekira 3.000 fet," ucapnya, Senin (19/10/2015).
Saat jatuh di danau, seluruh awak keluar. Sebelum heli tenggelam, Frans sempat membantu awak lainnya menarik jok heli untuk alat bantu mengapung.
"Setelah itu kita semua sama-sama berpegangan di jok, sekira dua sampai tiga jam. Setelah itu ada gelombang, kita semua terpisah," tutur Frans.
Frans sendiri terus terapung karena memasukkan enceng gondok ke dalam kaosnya. Ia mencoba tidak bergerak sama sekali untuk mencegah lelah agar tak tenggelam.
"Saya mengajak awak dan paman saya, enggak usah banyak gerak di air. Karena saat itu kondoisi panik di atas permukaan air," ucapnya.
Selama tiga hari dua malam terapung, Danau Toba tertutup kabut. Saat mengetahui arah matahari, Frans kemudian langsung berenang ke arah sebaliknya. Sebab menurut dia, sudah dekat dengan daratan.
"Waktu itu saya sudah memasrahkan hidup saya pada Tuhan. Saya berdoa kepada Tuhan, saya siap untuk dipanggil, lalu saya tertidur," katanya.
Di hari kedua pun sama, tidak banyak yang bisa dia lakukan selain terapung. Namun dia melihat pulau dan mencoba berenang tetapi tetap tidak kuat.
Pagi harinya saat bangun, dirinya sudah berada di kapal penyelamat. "Saya tidak makan, cuma minum selama mengapung. Halusinasi sering muncul, waktu itu kebayang di pinggir danau. Saya ditemukan sudah dalam keadaan telanjang bulat padahal awalnya berpakaian lengkap," urainya.
Pria yang bekerja sebagai Helicopter Landing Oficer (HLO) ini mengatakan, setelah dirawat selama beberapa hari di RS Bhayangkara Medan, ternyata taka da luka serius di tubuhnya.
Menuturnya, itu karena pengalaman bertahan hidup waktu pendidikan semi militer. "Waktu sekolah dulu pernah mengikuti pelatihan outbond semi militer,"katanya.
Dia mengaku bangga menjadi warga kehormatan marinir yang diberikan langsung oleh Serma Totok Santoso sebagai Ketua Tim Sar karena mampu bertahan selama tiga hari di Danau Toba. "Saya dikasih baju dan baret," pungkasnya.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.