Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Empat Peserta Kemah di Ciremai Tewas Tersambar Petir

Empat Peserta Kemah di Ciremai Tewas Tersambar Petir
Polisi dan warga meninjau lokasi kejadian (Foto: Kabar Cirebon)
A
A
A

KUNINGAN – Kepala Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Resort Cigugur, Idin Abidin, mengatakan, kawasan bumi perkemahan di Palutungan, Kuningan, Jawa Barat, diduga mengandung medan magnet yang cukup besar.

“Saat kami mencoba drone yang harusnya bisa mencapai ketinggian 50 meter, namun tidak bisa, karena kemungkinan ada medan magnet yang dapat menarik aliran tersebut,” kata Idin, Minggu, 8 November.

Setelah adanya tragedi yang menewaskan empat orang, sementara waktu aktivitas perkemahan di lokasi itu akan ditutup, baik bagi pengunjung maupun wisatawan kemah alam.

“Kami akan melakukan penelitian terlebih dahulu dengan melibatkan pihak PLN dan tim ahli lainnya untuk mengetahui hasilnya apakah lokasi berbahaya ketika ada sambaran petir atau tidak,” ujar Idin.

Idin menerangkan, pada tahun lalu di kampung Palutungan pernah terjadi musibah yang sama. Petir menyambar rumah Sandi Baron sehingga mengakibatkan televisi rusak.

“Selain di rumah warga, kami juga menerima informasi bahwa pohon pinus tidak jauh dari lokasi yang kemarin juga sering langganan terkena petir,” ujarnya.

Sesebelumnya, empat anggota pencinta alam dari SMA Negeri 1 Jamblang, Kabupaten Cirebon, tewas tersambar petir ketika berkemah di Bumi Perkemahan Ipukan, kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Sabtu, 7 November siang.

Mereka yakni Dean Andika (15), Andrian (15) keduanya siswa SMA Negeri 1 Jamblang yang menjadi anggota pencinta alam. Sedangkan dua korban tewas lainnya merupakan alumni sekaligus pembina kelompok pencinta alam SMAN 1 Jamblang, yakni Arif Budiyanto (24) dan Arif Budiman (25).

Dean Andika, Andrian, dan Arif Budiyanto diperkirakan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan Arif Budiman menghembuskan nafas terakhir saat mendapat penanganan intensif tim medis RS Sekar Kamulyan Cigugur, Kuningan.

Diperoleh informasi, sambaran petir juga menyebabkan tiga anggota pencinta alam lainnya mengalami lemas sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur, Kuningan. Mereka yakni Fahat (19) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, Nurhalizah (17) dan Anisa (16) siswi SMAN 1 Jamblang.

Saat ditemui wartawan, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat RS Sekar Kamulyan, Cigugur, Irman Nurmansyah mengatakan, keempat korban tewas dan tiga korban lainnya tidak ada yang mengalami luka bakar.

“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim kami, kondisi fisik bagian luar tubuh mereka mulus atau tidak ada yang mengalami luka bakar. Seorang di antaranya ada juga yang mengalami luka bakar pada bagian tangannya, tapi lukanya kecil. Mungkin mereka tidak terkena langsung sambaran petir, tetapi hanya terkena imbas kuat dari energi sambaran petir,” kata Irman Nurmansyah.

Rombongan kemah kelompok pencinta alam SMAN 1 Jamblang sudah berada di Bumi Perkemahan Ipukan sejak Jumat, 6 November dan direncanakan akan menggelar pelantikan pengurus Sabtu malam.

Sedangkan rombongan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon tiba Sabtu pagi, dan direncanakan akan menggelar kegiatan orientasi studi pengenalan kampus tingkat fakultas sampai dengan Minggu.

Setelah insiden itu, seluruh rombongan meninggalkan lokasi kejadian.

Ketua rombongan yang juga guru pembina pecinta alam SMAN 1 Jamblang, Wawan Suwandi (35) mengatakan, rombongan PA SMAN 1 Jamblang semuanya 13 orang, di antaranya delapan orang anggota, tiga orang pembina, dan dua orang alumni.

“Pada saat itu kondisi hujan, kemudian dari rombongan kami ada yang memperbaiki tenda karena bocor. Posisi saya saat hujan lebat tidak satu tenda dengan mereka. Kemudian, mereka memilih berteduh ke musala dan gubuk karena tenda yang diperbaikinya belum selesai. Begitu ada petir mereka yang berada di musala dan gubuk terkena imbas aliran energi kuat sambaran petir,” ujar Wawan.

Setelah hujan reda, lanjut Wawan, dirinya bersama rombongan lainnya keluar tenda dan sudah melihat korban tergeletak di tanah. Dari situlah korban yang tergeletak di tanah dibawa ke musala dan upaya mencari bantuan. Ada sebagian rombongan yang melapor ke pos dan mendatangi Polsek Cigugur.

Terpisah, Kapolsek Cigugur, Ajun Komisaris Iman Supratikno mengatakan, insiden itu murni bencana alam. “Hasil penyelidikan, mereka memang benar sedang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam. Puncak kegiatannya, yakni pelantikan observasi pengurus PA SMAN 1 Jamblang dan sudah mendapat izin dari orang tuanya masing–masing, saya berharap pihak pengelola segera mengurusi asuransinya,” tuturnya.

Dihubungi terpisah, Ani, orang tua Nurhalizah (salah satu korban selamat) mengaku mendapat firasat buruk ketika putrinya ikut acara perkemahan di Palutungan. Ketika itu ia sedang mencuci piring. Tiba-tiba, piring yang sedang dicuci jatuh sendiri dan pecah hingga melukai tangannya.

“Lagi nyuci, piring pecah. Dan, saat dibereskan tangan saya terluka. Entah mengapa pikiran saya langsung teringat pada anak saya yang sedang berkemah di Kuningan, namun saya masih anggap itu kebetulan saja,” cerita Ani

Sulit dipercaya oleh akal sehat, namun semua terjadi. Ibu Ani baru menyadari kalau pecahnya piring saat dicuci tersebut merupakan firasat musibah alam yang dialami anaknya. Ia mengetahui bencana itu setelah pihak sekolah memberitahukan melalui saluran telepon.

“Meski anak saya selamat dalam musibah tersebut, namun saya kaget bukan kepalang mendengar musibah tersebut,” jelasnya.

Hingga Minggu malam, anaknya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Arjawinangun karena menderita sesak nafas dan luka bakar ringan. Namun, Ani masih dihantui ketakutan, karena kondisi kejiwaan anaknya tersebut takut terganggu. “Anak saya masih shock, dia trauma, apalagi ia merasa ada suara suara, saya takut kejiwaannya terganggu,” jelasnya.

Kondisi Nurhalizah memang sudah mulai membaik. Ia bahkan bisa menceritakan kejadian saat itu. Ia mengaku saat itu dirinya bersama orang lain yang berjumlah 10 orang sedang berteduh di saung karena hujan deras.

Keempat korban tewas sudah dimakam di tempat pemakaman umum di alamat masing masing rumahnya.

Sementara tiga korban luka yakni Farhat, Nurhalizah, dan Anisa yang sebelumnya menjalani perawatan RS Sekar Kamulyan Cigugur, sudah dirujuk ke RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon dengan kondisi semakin membaik.

(Retno Wulandari)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement