Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Banyak Salah Tafsir atas Tulisan Buehler Mengenai Jasa Makelar

Emirald Julio , Jurnalis-Jum'at, 13 November 2015 |10:10 WIB
Banyak Salah Tafsir atas Tulisan Buehler Mengenai Jasa Makelar
Presiden Joko Widodo bertemu Obama di Gedung Putih (Foto: Bloomberg)
A
A
A

JAKARTA – Isu tidak sedap yang sempat menghebohkan Indonesia mengenai penggunaan jasa makelar seperti yang tertera pada tulisan Dr Michael Buehler akhirnya mendapat respons dari ia sendiri sebagai sang penulis. Buehler mengatakan bahwa beberapa media di Indonesia keliru dalam tafsir tulisannya tersebut.

Artikel mengenai kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat (AS) beberapa pekan lalu itu dimuat pada laman New Mandala. Dalam tulisannya, Buehler mengutip dokumen dari Departemen Kehakiman AS yang berisi Perusahaan Perreira Internasional menjadi pihak kedua yang menjadi perwakilan Indonesia untuk menyewa jasa pelobi dari R&R Partners.

Buehler mengatakan bahwa media di Indonesia banyak salah tafsir mengenai hal tersebut. Dia mengatakan tidak ada sama sekali dalam tulisannya yang memiliki sinyalemen bahwa jasa pelobi tersebut untuk mengatur pertemuan Jokowi dan Obama. Sebab, pertemuan ini memang sudah diatur jauh sebelum adanya kontrak kerjasama penggunaan jasa lobi.

Dikutip dari tulisan barunya di New Mandala, sebagaimana dilansir Asiapasific.anu.edu.au, Jumat (13/11/2015), Buehler mengatakan, “Pemerintah Indonesia membantah telah menyewa pelobi, padahal kontrak sangat jelas mengatakan bahwa seorang pelobi dipekerjakan sebagai konsultan oleh lembaga eksekutif pemerintah Indonesia.”

“Berbohong dalam dokumen resmi merupakan sebuah tindakan pidana di AS yang membawa hukuman paling berat hingga lima tahun di penjara,” jelasnya.

Menurut dokumen itu sendiri Buehler memaparkan bahwa Pereira Internasional PTE LTD menjadi pihak kedua yang membeli jasa dari R&R Partner dengan biaya USD80.000.

Sebenarnya terdapat poin utama yang harus dilakukan pelobi berdasarkan dokumen perjanjian tersebut, yaitu:

• Mengatur dan menghadiri pertemuan dengan para pembuat kebijakan penting, anggota kongres, dan anggota lembaga eksekutif.

• Berusaha untuk mengonfirmasi kesempatan untuk berpidato (Presiden Joko Widodo) di sesi gabungan kongres saat kunjungan Presiden Widodo ke AS.

• Mengidentifikasi dan bekerja sama dengan figur-figur berpengaruh, media massa dan organisasi, baik publik maupun swasta di AS untuk mendukung program Presiden Widodo.

(Hendra Mujiraharja)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement