Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Surabaya Inferno yang Gegerkan London & Mengundang Simpati AS

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 14 November 2015 |07:17 WIB
Surabaya <i>Inferno</i> yang Gegerkan London & Mengundang Simpati AS
Ilustrasi Pertempuran Surabaya (Foto: SINDO)
A
A
A

MENURUNKAN puluhan ribu pasukan berpengalaman di Perang Dunia II dengan senjata lengkap nan modern, tak serta merta membuat Inggris bisa menguasai Kota Surabaya bak membalikkan telapak tangan.

Dengan persenjataan seadanya, para petarung republik yang baru berdiri itu bertahan mati-matian. Kendati Kota Surabaya digempur habis dari darat, laut dan udara hingga menjadikannya lautan api, Pasukan Divisi Kelima India “Ball of Fire” pimpinan Mayjen Robert Eric Carden Mansergh, masih kesulitan menduduki kota sepenuhnya.

Perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Polisi Istimewa hingga laskar rakyat justru kian sengit. Kadang di beberapa sektor, justru pasukan Inggris yang terdesak. Korban berjatuhan di pihak Inggris semakin mengkhawatirkan, hingga pasukan Inggris menyebut pertempuran ini bak Inferno alias neraka.

“Rakyat Indonesia di Surabaya tak menghiraukan jatuhnya korban. Apabila satu jatuh, yang lain tampil maju ke muka. Bren (senapan mesin ringan Bren Gun) terus bicara, onggokan mayat di barikade menggunung, tetapi rakyat Indonesia datang lagi semakin banyak,” tulis Letkol A.J.F. Doulton di buku ‘The Fighting Cock’.

Kabar ini ternyata juga sampai ke London, jantung Kerajaan Inggris Raya. Di Ibu Kota Inggris itu, warga London digegerkan dengan berita terbitan 13 dan 14 November 1945 dari surat kabar TIMES, yang menggambarkan apa yang terjadi pada pasukan mereka di sebuah kota di timur Pulau Jawa.

“Perlawanan Indonesia di Surabaya dilaporkan semakin gigih. Pada hari Minggu malam, wanita-wanita Indonesia ke luar (tempat perlindungan) dan menyelamatkan jenazah-jenazah kaum prianya,” tulis TIMES.

Setelah membombardir Surabaya selama tiga hari sejak 10 November 1945, Mansergh masih belum puas dan masih butuh tambahan kekuatan. Mansergh minta tambahan delapan pesawat tempur P-47 Thunderbolt, dua De Havilland Dh.88 Mosquito, 21 tank Sherman dan sejumlah kendaraan lapis baja Bren Gun Carrier.

Kabar tentang gempuran Inggris ke Surabaya itu juga ternyata hinggap ke telinga warga dan media-media Amerika Serikat (AS).

Nada-nada keprihatinan dan simpati muncul lewat berbagai tulisan di surat-surat kabar di Negeri Paman Sam yang sudah tahu, bahwa konflik itu tak lepas dari desakan Belanda yang membutuhkan Inggris demi merebut lagi koloninya itu.

“Laporan dari Surabaya melahirkan hal serupa yang memuakkan seperti kabar dari Warsawa, Rotterdam, Belgrade, Athena, Coventry dan London, ketika kota-kota itu dibombardir Nazi,” tulis koran The Saint Louis Despatch, sebagaimana disitat buku ‘Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations’.

Sementara koran The New Republic menuliskan: “Sulit melihat apa kewajiban moral pemerintahan buruh Inggris – yang secara teori yang menentang penindasan kolonialisme – yang malah mempertahankan koloni Belanda dengan kekuatan militer,”.

Adapun surat kabar The Chicago Tribune menyematkan kata-kata: “Jelas Belanda dan Prancis tak mampu mengembalikan kekuasaan mereka atas Hindia-Belanda dan Indi-China tanpa bantuan negara lain. Tak semestinya sedikit pun bantuan diberikan pada mereka,”.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement