Penulis berusia 33 tahun itu, sedianya meluncurkan buku dari hasil riset selama lima tahun ini pada Sabtu, 14 November 2015 di Surabaya. Tapi beberapa waktu sebelumnya, Okezone sempat berbincang singkat soal buku setebal 139 halaman tersebut.
Dengan bantuan kawan-kawan komunitas sejarah Roode Brug Soerabaia, serta sejumlah sahabat dekat dari kalangan personel TNI, Ady mengupas keberadaan Benteng Kedungcowek yang terletak dekat Jembatan Suramadu, sebagai embrio lahirnya buku yang dibidani penerbit Mata Padi tersebut.
Benteng yang ketika ditemukan tertutupi rimbunan tanaman liar itu jadi obyek perburuan, karena turut terlibat dalam rangkaian “Pertempuran Surabaya” melawan pasukan Inggris yang terjadi pada 10 November, di mana Inggris baru bisa menguasai Kota Surabaya 27 hari kemudian.
Dari situlah Ady punya keinginan mencari “akta kelahiran” benteng ini, hingga ke Nationaal Archieve di Den Haag, Belanda. Dari pencarian di negeri tulip bersama kawan wartawati lepas, Marjolein van Pagee itulah, Ady menemukan fakta bahwa Benteng Kedungcowek punya banyak “keluarga”.
Salah satu sisi Benteng Kedungcowek