JAKARTA – Enam dekade silam, ratusan warga di sebuah desa di Karawang, Jawa Barat, dibantai dengan keji di mana saat ini peristiwa itu dikenal dengan sebutan tragedi pembantaian Rawagede.
Majoor Alphonse Wijman, Komandan Koninklijke Landmaacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda dari Eerste Divisie 7 Desember sektor Cikampek, memerintahkan sekira 300 anak buahnya untuk menghabisi lebih dari 400 warga Desa Rawagede (kini Desa Balongsari, Karawang), 9 Desember 1947.
Desa Rawagede diserbu demi memburu sejumlah tokoh TNI dan laskar perjuangan, seperti Kapten Madmuin Hasibuan dari satuan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), Kapten Lukas Kustario dari Siliwangi yang dikenal dengan julukan “Begundal Karawang”, serta pimpinan Laskar Hisbullah, KH Noer Ali yang berjuluk Singa Karawang-Bekasi.
Disebutkan, sehari sebelum serbuan tentara Belanda, 8 Desember 1947, Kapten Madmuin, Kapten Lukas dan KH Noer Ali, mengadakan pertemuan di Rawagede. Belanda sedianya tahu adanya pertemuan itu dari mata-mata pro Belanda.
“Mereka mengadakan rapat koordinasi antara organik (TNI) dengan laskar-laskar. Pas kejadian (pembantaian Rawagede), mereka sudah keluar dari sana,” ujar Beny Rusmawan, penggiat sejarah Bekasi dihubungi Okezone, Rabu (9/12/2015).
“Sebenarnya sejak awal November, Belanda sudah curiga bahwa Kapten Lukas sering mengadakan pertemuan di Rawagede. Dan sebenarnya, Belanda sudah berusaha masuk ke Rawagede, ketika Lukas, KH Noer Ali dan Kapten Madmuin sedang rapat pada 8 Desember,” tambahnya.
Namun, karena cuaca buruk dan hujan lebat, Belanda urung masuk ke Rawagede, lantaran pasukannya enggan maju dengan bantuan kavaleri.
“Baru pada 9 Desember setelah dapat informasi dari mata-mata, Belanda masuk ke Rawagede. Tapi Lukas dan KH Noer Ali sudah keluar dari Rawagede sejak 8 Desember sore,” imbuh Beny.
Lukas, “si Begundal Karawang” jadi buruan Belanda lantaran acap bikin ulah. Beberapa gangguan yang dilakukan pasukannya yang berjumlah sekira satu kompi (100 orang), sering menyabotase rel kereta api di sekitar Bekasi dan Karawang.
“Pernah pada suatu saat, Lukas mencegat satu rangkaian kereta yang melaju dari Jakarta ke Semarang membawa logistik. Lukas seorang diri mencegat kereta di tengah rel dengan seragam Belanda. Pas keretanya berhenti, baru anak-anak buahnya menyergap dari sisi kiri dan kanan untuk merampas senjata dan logistik yang dibawa Belanda di kereta,” tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.