Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tragedi Rawagede: Kapten Lukas Ngotot Ingin Balas Belanda

Randy Wirayudha , Jurnalis-Rabu, 09 Desember 2015 |14:09 WIB
Tragedi Rawagede: Kapten Lukas <i>Ngotot</i> Ingin Balas Belanda
Ilustrasi Tentara Belanda (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Demi mendapatkan informasi terkait salah satu tokoh lokal TNI, Kapten Lukas Kustario, pasukan Belanda rela menjejerkan lebih dari 400 warga Desa Rawagede dan menghabisinya ketika tak sepatah kata pun keluar soal informasi yang diinginkan.

Kini, peristiwa yang terjadi pada 9 Desember 1947 itu lebih dikenal dengan tragedi pembantaian Rawagede.

Pasukan Koninklijke Landmaacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda dari Eerste Divisie 7 December sektor Cikampek pimpinan Majoor Alphonse Wijman, saat itu ‘ngebet’ mencari informasi keberadaan Lukas, salah satu perwira TNI Siliwangi sektor Karawang.

Lukas diburu Belanda lantaran sering bikin ulah. Pasalnya, banyak kejadian kereta dari arah Jakarta menuju Semarang dan sebaliknya, terguling karena rel keretanya disabotase.

Kisah lain, Lukas pernah menjarah senjata dan logistik Belanda, setelah mencegat kereta dengan mengenakan seragam Belanda. Ketika kereta tersebut berhenti, anak-anak buahnya dari sisi kiri dan kanan kereta langsung kontak senjata, hingga akhirnya logistik Belanda berhasil dirampas.

Satu hari sebelum Belanda menghabisi ratusan nyawa warga Desa Rawagede (kini Desa Balongsari, Karawang), sedianya Lukas bersama Kapten Madmuin Hasibuan dan pimpinan Laskar Hisbullah, KH Noer Ali, diketahui mengadakan rapat koordinasi antara TNI dan laskar-laskar wilayah Bekasi-Karawang, dari mata-mata pro Belanda.

Beruntung, di sore itu juga mereka sudah angkat kaki dari Desa Rawagede, menghindari sergapan Belanda yang memburu sang “Begundal Karawang” (julukan Lukas) dan “Singa Bekasi-Karawang” (julukan KH Noer Ali).

Pasca-mengadakan rapat, Lukas pun bertolak menuju Tambun dengan tujuan Cililitan. Lukas berencana kembali melakukan raid atau serangan dadakan ke beberapa pos Belanda.

Sementara KH Noer Ali bersama sekira 40 pasukan Laskar Hisbullah, keluar dari Rawagede menuju Muara Gembong, kemudian Kampung Bugis di pedalaman Karawang.

“Setelah rapat, mereka bubar. Lukas ke Tambun untuk kemudian menyerang pos Belanda di Cililitan. Nah, KH Noer Ali sama 40 anak buahnya menyusuri Sungai Citarum menuju Kampung Bugis,” ungkap Beny Rusmawan, penggiat sejarah Bekasi kepada Okezone, Rabu (9/12/2015).

Ketika mendengar kejadian pembantaian Rawagede, Kapten Lukas sedianya ngotot ingin kembali. Lukas ingin bikin perhitungan alias balas dendam terhadap Belanda.

“Pas kejadian (pembantaian) Rawagede, Lukas dengar kabar itu ketika dia masih di pos TNI di Tambun. Saat itu, dia ngotot ingin balik. Dia pengin balas serang pos Belanda di Cikampek. Tapi pejuang-pejuang yang lain menahan Lukas karena merasa kekuatan mereka tak sebanding,” pungkasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri sempat memprotes tindakan Belanda di Rawagede itu ke PBB. Sayangnya, tak ditanggapi dengan aksi nyata dari PBB. Respons PBB saat itu hanya menyesalkan dan sekadar melayangkan kecaman terhadap Belanda.

Peristiwa ini sampai sekarang masih membekas jika bicara hubungan RI dan Belanda sejak era revolusi. Pada 2011, Duta Besar Belanda saat itu, Tjeerd de Zwaan meminta maaf atas tragedi itu, sekaligus tabur bunga di makam korban Rawagede.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement