Hasil penyelidikan terhadap Lanza mengungkapkan bahwa dia menderita sejumlah masalah perilaku dan psikologis. Lanza juga diketahui terobsesi dengan berbagai peristiwa penembakan massal seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Columbine di Colorado pada 1999 dan di Kampus Northern Illinois University di Illinois pada 2008. Meski begitu, motifnya menyerang Sandy Hook sampai saat ini masih merupakan misteri.
Peristiwa ini memicu perdebatan mengenai kontrol senjata api di AS, dan desakan untuk melakukan pemeriksaan latar belakang pada para pembelinya, terutama bagi senjata-senjata jenis semi otomatis. Desakan ini muncul karena rifle Bushmaster XM15-E2S dan tiga senjata api lainnya yang digunakan Lanza dalam pembantaian Sandy Hook merupakan senjata api yang diperolehnya secara legal.
Faktanya, sejak tragedi Sandy Hook sampai Oktober 2015 saat penembakan di San Bernardino yang menewaskan 14 orang, tercatat telah terjadi setidaknya 1.052 peristiwa penembakan massal di AS.
Dari data yang dirangkum kelompok-kelompok pengamat seperti ShootingTracker.com, dan Gun Violent Archive, sepanjang tahun di AS terhitung telah terjadi setidaknya 355 penembakan massal, yang berarti lebih dari satu kejadian per harinya, dengan jumlah korban tewas sebanyak 462 orang.
(Rahman Asmardika)