Evita juga heran pemilihan negara bebas visa juga sangat tidak cermat, mengingatkan bahwa selama ini pasar wisata Indonesia itu sudah terpola yakni dari ASEAN, Asia, Australia, Eropa, dan Amerika.
“Sangat tidak wajar jika negara yang menyumbang hanya 1.000 wisatawan per tahun juga diberikan fasilitas itu,” sambungnya.
Pada bagian lain, Evita juga megkritik pemberian waktu kunjungan pukul rata 30 hari. Hal itu berdampak pada makin banyaknya kasus cyber crime dan narkoba di Indonesia tahun 2015 ini dengan melibatkan banyak orang asing.
“Kalau kita nilai warga negara itu banyak terlibat kriminal di sini kita bisa juga mempersingkat waktu kunjungan hanya 14 hari,” katanya.
Evita bahkan meminta Rizal Ramli untuk memberikan keterangan yang clear mengenai berapa sebenarnya jumlah negara yang akan diberikan fasilitas bebas visa ke depan. Sebab apa yang dijelaskan dalam jumpa pers maupun di dalam perpres sebelumnya berbeda-beda. Perpres Nomor 69 Tahun 2015 memberikan bebas visa untuk 45 negara, kemudian Perpres Nomor 104 Tahun 2015 diubah menjadi 75 negara. Lalu katanya berubah lagi menjadi 174 negara.
“Jumlah negara itu membingungkan. Coba dijelaskan dengan baik sehingga publik clear. Terus terang jumlah 174 itu memang sangat banyak dan kita menjadi terlalu terbuka, tak lagi punya filter awal. Thailand saja yang bergantung pada pariwisata hanya memberikan 57 negara, dan 19 negara masih visa on arrival,” ujar Evita.
Terkait resiprokal, menurut Evita, meskipun tidak harus semua Negara bebas visa harus resiprokal, namun perlu memperjuangkan asas itu untuk negara-negara yang memang dari pertimbangan politik, ekonomi dan lainnya sangat menguntungkan bagi Indonesia.
“Jangan menganggap resiprokal itu tidak penting, apalagi sampai dikaitkan dengan pembatasan warga negara kita ke luar negeri. Itu keliru. Upaya resiprokal itu juga untuk mendorong pebisnis dalam negeri untuk menjadi pemain-pemain global,” tutupnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.