Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita AKBP Untung Sangaji dari Asyik Ngopi hingga Tembak Mati Teroris

Feri Agus Setyawan , Jurnalis-Sabtu, 16 Januari 2016 |13:32 WIB
Cerita AKBP Untung Sangaji dari Asyik <i>Ngopi</i> hingga Tembak Mati Teroris
AKBP Untung (foto: Istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Siapa yang menyangka bakal terjadi aksi teror dan peledakan bom di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat pada Kamis 14 Januari 2016. Begitu pun yang dirasa anggota Pusdik Polisi Udara dan Air (Polair), AKBP Untung Sangaji yang sedang bertugas menjaga di luar ring Istana Negara.

Untung yang belakangan diketahui sebagai penembak mati teroris di halaman gerai Starbucks Coffe, Menara Cakrawala. Saat kejadian sedang berbincang sambil mencicipi segelas kopi bersama rekannya IPDA Tamat Suryani di Kafe Walnut di Gedung Sarinah. Mendengar suara ledakan, dirinya langsung bereaksi.

"Saat itu saya sedang ngopi, itu kan jalur pengamanan Presiden, itu jalur pengamanan saya. Ketika terjadi itu (suara ledakan) ya kita anggap kita siap," tutur Untung usai menghadiri Diskusi 'Di Balik Teror Jakarta' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (16/1/2016).

Foto Kompilasi Bom Sarinah

Perwira menengah (Pamen) ini pun sigap mendengar suara ledakan yang berasal dari Pos Polisi di Jalan MH Thamrin kala itu dan dirinya langsung memeriksa lokasi kejadian.

Saat itu dia melihat sekitar jalanan sudah banyak skrup, baut serta paku yang berserakan. Untung lantas berpikir itu merupakan aksi teroris.

Benar saja dugaan pria yang mengenakan kemeja putih itu, saat kejadian ledakan bom yang menewaskan 7 orang dan melukai 24 orang lainnya disertai suara tembakan terdengar beberapa kali yang mengarah ke kerumunan massa.

"Tiba-tiba ada tembakan dari arah kerumunan, lalu di kerumunan itu ada yang tertembak. Tamat (IPDA Tamat Suryani yang ngopi bersama AKBP Untung) safety ride di sini (belakang saya)," bebernya.

Baku tembak dengan para teroris itu tak terhindarkan. Untung dengan pistol yang sudah terkokang mengamankan lokasi dengan IPDA Tamat sambil menunggu pasukan kepolisian datang. Untung berada di posisi terdepan, Tamat memback-up dari belakang melakukan pengamanan.

"Ketika kaki dihamtam si Tamat, saya hantam dadanya. Mendapat tembakan dari Tamat, tamat ( mati) dia (teroris)," tuturnya.

(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement