Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nano, Si Cantik Siluman Kucing dari Skandinavia

Randy Wirayudha , Jurnalis-Jum'at, 29 Januari 2016 |21:01 WIB
Nano, Si Cantik Siluman Kucing dari Skandinavia
Nano, sang Catwoman dari Skandinavia (Foto: Caption YouTube)
A
A
A

OSLO – Siapa bilang figur “Catwoman” hanya ada dalam film? Setidaknya seorang gadis dari Skandinavia (Eropa Utara), mengaku dirinya punya jiwa kucing yang terjebak dalam tubuh seorang wanita!

Namanya Nano, gadis cantik berusia 20 tahun asal Oslo, Norwegia ini, mengklaim dirinya punya sejumlah kemampuan seperti halnya kucing.

Sebut saja penciuman dan pendengaran yang lebih tajam, serta penglihatan yang lebih baik di malam hari ketimbang manusia pada biasa pada umumnya.

Nano, si “Siluman Kucing” ini juga sudah mulai dikenal jagat dunia maya, setelah gelaran wawancara media Norwegia, NRK P3 Verdens Rikeste Land.

Serba-serbi tentangnya juga jadi perhatian khusus para netizen, setelah rekaman wawancaranya diunggah ke media sosial YouTube yang sudah ditonton lebih dari 1 juta kali!

Jiwa kucing dalam dirinya juga mendorong cara berbusananya, baik di rumah maupun di ruang publik dengan mengenakan sejumlah atribut menyerupai kucing, seperti sarung tangan berbentuk telapak kucing, maupun aksesoris rambut berbentuk telinga kucing.

“Saya menyadari bahwa saya merupakan seekor kucing ketika berusia 16 tahun. Saat itu para dokter dan psikolog menemukan ‘sesuatu’ terhadap saya. Terlepas dari kelahiran saya (sebagai manusia), terdapat penyimpangan genetik,” aku Nano.

Saat berada di ruang publik, seperti Stasiun Kereta Oslo, Nano juga bilang bahwa dia mendengar banyak hal yang tak bisa didengar manusia biasa.

“(Seperti suara) roda koper yang berputar. Bunyi rangkaian kunci-kunci di saku orang lain. Suara (salju) es di sepatu orang-orang. Saya lahir dalam (tubuh) spesies yang salah. Saya juga benci air,” tambahnya, seperti disitat Daily Mail, Jumat (29/1/2016).

“Saya juga bisa melihat lebih baik dalam gelap. Saya senang mendengkur, bahkan merangkak. Mengejar banyak hewan lain yang terlihat dalam bayangan,” sambung Nano.

Sebagaimana halnya kebiasaan kucing, Nano juga berdesis ketika bertemu “musuh bebuyutannya” – anjing. “Kadang saya berdesis ketika bertemu anjing di jalan. Itu karena insting saya yang secara otomatis bereaksi mendesis. ,” lanjutnya.

Di sisi lain, Nano juga sering mengeong. Setidaknya dalam hal ini, Nano tak sendirian. Nano punya teman, Svein, untuk berkomunikasi dua arah dengan mengeong.

“Saya kadang bisa secara tiba-tiba mulai mengeong padanya. Kemudian kami saling berkomunikasi dengan bahasa kucing. Saya bisa mengerti bahasanya,” timpal Svein.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement