“Bingkisan” itu dimaksudkan Sjahrir, untuk dihadiahkan kepada Raja Muda Lord Wavell di India, via KL Punjabi. Kepanitiaan pun dibentuk pada 27 Mei 1946 dengan diketauai Ir. Subianto. Pengiriman beras itu diberangkatkan dengan kapal-kapal India dari Pelabuhan Cirebon, Probolinggo dan Banyuwangi.
Sebagai “balasan” pengiriman beras, melalui PM Nehru, menguatkan pengakuan terhadap Indonesia, dengan mengundang PM Sjahrir dan Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta ke New Delhi dalam Konferensi Inter-Asian Relations (23 Maret-2 April 1947).
Tahu bahwa Sjahrir dan Hatta bakal kesulitan menembus blokade Belanda, sebagaimana dikutip dari buku ‘Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia’, Nehru pun mengutus kawannya seorang pebisnis asal Bengal, Bijayananda “Biju” Patnaik untuk “menjemput” Sjahrir.
Pada 31 Maret 1947 malam, Patnaik dengan pesawat Inggris mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta, untuk kemudian langsung kembali ke Delhi dengan membawa serta Sjahrir, sang istri Poppy Saleh, Ali Boediardjo dan Soedjatmoko.