Kopassus Habisi Milisi Ambon Hanya dalam Waktu Dua Jam
Untuk mengatasi tragedi kerusuhan di Ambon pada tahun 2001 pemerintah pusat menerjunkan pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir dan Paskhas.
Keberadaan Kopassus yang saat itu dipimpin oleh Kapten Nyoman Cantiasa ternyata mengundang sentimen dari para milisi sehingga mereka melancarkan serangan membabi buta.
Merespons ulah para milisi itu, gedung dan tempat-tempat yang diperkirakan menjadi markas milisi dihancurkan pasukan gabungan. Kapten Cantiasa akhirnya mengetahui jika markas utama milisi Ambon itu berada di Hotel Wijaya II.
Akhirnya, Kopassus bergerak cepat melakukan "sapu bersih" di area hotel tersebut. Hanya dalam waktu dua jam saja, markas pusat milisi Ambon berhasil direbut pasukan baret merah milik TNI AD itu.
Hebatnya, saat itu pasukan elite TNI AD tersebut menggunakan senjata-senjata yang sudah ketinggalan zaman, mengingat pada masa itu Indonesia tengah diembargo oleh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
Kopassandha Gagalkan Pembajakan Pesawat Garuda
Aksi pembajakan oleh sekelompok terduga teroris terjadi pada 28 Maret 1981. Sebanyak lima orang teroris pimpinan Imran bin Muhammad Zein dari kelompok Islam radikal, Komando Jihad membajak pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206 atau DC-9 Woyla.
Pesawat itu sebelumnya berangkat dari Jakarta pukul 08.00 WIB lalu transit di Palembang untuk terbang kembali ke Palembang. Namun, saat hendak menuju Palembang, para teroris yang membawa senjata api dan bahan peledak menyamar sebagai penumpang lalu membajak dan menyandera orang-orang yang ada di dalam pesawat.
Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang menuju Bandara Don Mueang di Bangkok, Thailand.
Pada tanggal 29 Maret 1981, sebanyak 35 pasukan elite TNI AD yang baru saja dibentuk bernama Para-Komando Kopassandha (sekarang Kopassus) berangkat secara diam-diam ke Thailand dengan mengenakan pakaian sipil.
Kemudian pada tanggal 31 Maret dini hari, mereka yang terbagi dalam tiga tim (Tim Merah, Tim Biru dan Tim Hijau), menolak bantuan berupa jaket anti-peluru yang ditawarkan CIA yang saat itu berada di Thailand.
Singkat cerita, Tim Hijau berhasil mengamankan pintu belakang pesawat dan merangsek ke dalam. Sedangkan Tim Biru dan Tim Merah menerobos masuk sehingga terjadi baku tembak dengan teroris.
Tragedi pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tersebut berlangsung empat hari di Bandara Don Mueang, Bangkok yang berakhir pada 31 Maret 1981. Serbuan kilat Grup-1 Para-Komando pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan berhasil menuntaskan perlawanan teroris.
Pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante dan salah seorang anggota satuan Para-Komando Kopasshanda, Achmad Kirang meninggal dunia dalam tragedi itu. Keduanya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
(Syukri Rahmatullah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.