Para pedagang Tadmor memiliki kapal-kapal di perairan Italia dan mengendalikan jalur perdagangan India. Berkat perdagangan, Tadmor menjadi salah satu kota terkaya di Timur Dekat. Sejarawan Terrry Jones dan Alan Erieira menyebutkan bahwa orang Tadmor merupakan satu-satunya orang non-Romawi yang mampu hidup bersama-sama dengan orang Romawi tanpa terpengaruh menjadi Romawi
Tadmor menjadi bagian dari Provinsi Suriah Romawi pada masa pemerintahan Tiberius (14–37 M). Kota ini secara perlahan-lahan tumbuh menjadi bagian penting dalam rute perdagangan yang menghubungkan Persia, India, China, dan Kekaisaran Romawi. Pada 129 M, Kaisar Romawi, Hadrianus, mengunjungi Tadmur dan begitu terpesona sehingga ia menyatakannya sebagai kota bebas dan menamainya Palmyra Hadriana.
Palmyra ditaklukkan oleh pasukan Arab Muslim pada 634 Masehi di bawah Khalid bin Walid. Kota dibiarkan utuh meski ditaklukkan lewat perang. Meski berganti-ganti penguasa dan hancur karena perang, kota Palmyra tetap mampu memulihkan diri dengan cepat.
Tigran Mkrtychev mendesak komunitas internasional untuk segera menggalang dana demi merestorasi monumen yang dihancurkan oleh ISIS. Tercatat, Kuil Bel dan Gerbang Palmyra dihancurkan selama masa penjajahan ISIS karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam.