JAKARTA – Kemunculan majalah satir Charlie Heboh dianggap bisa berbahaya bagi kerukunan beragama di Indonesia. Isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) akan sangat berbahaya jika tak segera diberantas.
"Ini berbahaya. Kalau sudah menyangkut agama, silent majority akan bergerak, apalagi ini sudah simbol Islam. Isu SARA akan berbahaya kalau tidak berantas. Pemerintah, polisi, dan TNI harus tegas," kata psikolog politik dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen kepada Okezone di Jakarta, Selasa (5/4/2016).
Isu SARA seperti ini, menurut Dewi, akan membuat kondisi keamanan jadi rentan. Terlebih adanya gerakan tersebut menunjukkan ketidakstabilan politik di Tanah Air.
Jika dibiarkan, kelompok-kelompok seperti ini bisa berubah militan dan fundamentalis. Gerakan-gerakan itu bisa berujung ke pemberontakan.
"Kalau begini bisa jadi fundamentalis, gerakan pemberontakan. Jadi, isu SARA ini memang tidak menguntungkan. Kalau dibiarkan akan konflik horizontal," tuturnya.