Selain daging, juga disediakan bermacam buah juga kue seperti pisang, jeruk, kue wajik, kue kura, kue mangkok, dan kue moho. Semua sesaji buah dan juga kue juga memiliki arti.
Pisang adalah buah yang asa di setiap musim, jeruk buah yang mempunyai banyak biji. Artinya nanti rezeki yang diperoleh bisa berkembang turun temurun ke anak cucu.
Kue mangkok dan kue moho sebagai lambang pengharapan rezeki yang berkembang, kue kura lambang panjang umur, dan kue wajik agar saling dekat dengan siapapun.
Rohaniawan Khonghucu Adji Chandra mengatakan setiap bulan April, umat Khonghucu berkewajiban menyelenggarakan upacara Ching Bing. Jaman dahulu Ching Bing merupakan saat yang tepat untuk membersihkan makam. Kemudian bersembahyang di makam leluhur.
Namun, lanjut Adji Chandra, 10 hari setelah Ching Bing berakhir, masyarakat Konghucu di Surakarta tetap memiliki kewajiban untuk melakukan upacara Ching Bing bersama.
"Jadi selain untuk mengormati leluhur sendiri, kita juga diwajibkan menghormati leluhur orang lain," jelas Adji Chandra.
Bahkan, di Solo sendiri, upacara sembahyang Ching Bing (sembayang arwah) juga dikenal dengan sebutan Cembengan. Istilah tersebut muncul ketika dahulu di lokasi Tiongting masih banyak pemakaman warga Thinghoa sebelum sekarang dipindahkan ke wilayah Delingan.
Lokasi makam dulunya bersebelahan dengan kebun tebu. Dan saat sembahyang antaran dahulu banyak pemakanan warga Tionghoa yang terletak disebelah perkebunan tebu, kemudian disaat upacara ini digelar selalu bersamaan dengan panen tebu.
Masyarakat menyebutnya Ching Bing-an, yang akhirnya berubah penyebutan menjadi Cembengan. Bahkan di dekat lokasi Thiong Ting ada tugu di perempatan yang dikenal dengan tugu cembeng.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.