nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah yang Tersisa dari Eks Lokalisasi Balongcangkring

Zen Arivin, Jurnalis · Jum'at 29 April 2016 11:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 04 29 519 1375894 kisah-yang-tersisa-dari-eks-lokalisasi-balongcangkring-wzmF9qOxDl.jpg Lokalisasi Balongcangkring. (Foto: Zen Arivin/Okezone)

MOJOKERTO - Petak-petak rumah itu tak seramai dulu. Tak ada hingar bingar dentuman musik khas nusantara (dangdut). Botol-botol yang biasa terpampang rapi di halaman wisma pun kini telah lenyap. Kaum hawa berbaju seksi yang biasa mangkal, juga tak satupun terlihat batang hidungnya.

Konon, mereka sudah hengkang sejak lokasi ini jadi sorotan publik. Setelah sekelompok orang bersorban yang mengaku penegak firman Tuhan, berupaya membubarkan para penghuni eks lokalisasi ini.

Ditambah, rencana para pemangku kebijakan untuk memberantas praktik prostitusi, yang katanya masih berlangsung di tempat ini.

"Sudah sepi sekarang. Tidak ada apa-apa. Kalau malam juga gelap, sudah pada pergi semua," ujar Anik, Ketua Kelompok di salah satu Wisma Harapan di eks lokalisasi Balongcangkring, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Siang itu, ibu tiga anak ini tengah berusaha menyibukan diri. Maklum saja, selama dua bulan ini, hari-harinya diisi dengan bersih-bersih. Tidak ada pesanan kopi, es, dan lain sebagainya dari para pengunjung warung mungilnya.

Pemandangan itu jauh berbeda di banding beberapa bulan sebelumnya. Dirinya tak pernah berhenti dari aktivitas. Lembaran rupiah pun selalu masuk ke kantong pribadinya.

"Sejak bulan Februari kemarin itu, setelah ada pengumuman, seluruhnya pergi. Padahal saat itu sudah mulai sepi. Karena di mana-mana juga tutup," imbuhnya.

Perempuan berusia 64 tahun ini menuturkan, dari sekian banyak penghuni gang tersebut, hanya dirinya yang masih berada di tempat itu. Sebab, rumah petak yang ditempatinya itu merupakan miliknya.

Sementara, para ketua wisma lain sudah ngacir pergi ke luar daerah. Entah mencari lokalisasi lain atau kembali ke kampungnya.

"Di sini ada 42 kelompok wisma. Satu kelompok hanya dua sampai tiga orang cewek yang menempati. Dulu memang ramai, tapi setahun ini sudah mulai sepi. Apalagi setelah ada surat edaran penutupan itu," tuturnya.

Anik mengaku selama dua bulan ini, pemasukan yang didapatkan berkurang drastis. Bahkan cenderung nol. Sebab, warung mungilnya itu sudah tak lagi didatangi orang. Tidak ada lagi teriakan pesanan kopi yang akrab mampir di telinganya.

"Sekarang sudah tidak ada pemasukan sama sekali. Warungnya sudah saya tutup, karena tidak ada yang beli. Kalau dulu sehari masih bisa dapat uang sampai Rp300 ribu, tapi mau apa lagi, kondisinya memang seperti ini," ungkapnya.

Selama dua bulan ini, Anik menggantungkan hidup dari sisa uang yang ditabungnya kala itu. Sang suami, sudah tak lagi mampu mengais rupiah untuk membuat dapur rumah berasap.

"Suami saya sakit lambung, jadi tidak bisa bekerja sama sekali. Ini sudah berkali-kali berobat. Uang simpanan juga semakin sedikit. Akhirnya ya dicukup-cukupin saja. Bagaimana caranya cukup begitu saja," paparnya.

Pihaknya berharap Pemerintah Kota Mojokerto memiliki gagasan cerdas yang menjadi solusi atas nasib yang menimpanya. Sebab, dengan pencanangan Kota Mojokerto bebas prostitusi tidak hanya membuat penghasilan para pekerja seks komersial (PSK) kehilangan penghasilan. Namun, juga mengganggu ekonomi sebagian warga sekitar lokalisasi.

"Semoga ada solusi. Kalau bisa, tempat ini dibuat ramai seperti dulu dengan cara yang lain. Atau ada dijadikan sentra usaha, sehingga warga di sini bisa hidup lebih baik dari segi perekonomian," harapnya.

[Baca Juga: Jelang Mojokerto Bebas Prostitusi, Petinggi TNI Datangi Lokalisasi]

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini