Kisah-Kisah Warga Bantul saat Diguncang Gempa Yogyakarta

Markus Yuwono, Sindoradio · Jum'at 27 Mei 2016 08:29 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 27 510 1399021 kisah-kisah-warga-bantul-saat-diguncang-gempa-yogyakarta-E32hq0ZHu6.jpg Ilustrasi: Reuters

YOGYAKARTA - Gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006 lalu masih menyisakan ingatan yang begitu kuat bagi warga Bantul. Gempa yang terjadi sekira pukul 05.53 WIB menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi warga di sana.

Warga Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul, Langgeng Waluyo berkisah bahwa dirinya sudah berada di pasar untuk menjual pakaian kala gempa mengguncang. "Kayak gelombang itu, mobil saya sampai melompat," ujarnya saat ditemui di sela pembangunan tetenger.

Saat itu dirinya langsung kembali ke rumah, dan didapati temboknya sudah ambruk seluruhnya. "Istri saya bisa selamat karena pegangan pohon rambutan yang kebetulan ada di tengah rumah," ujarnya

Waluyo pun langsung menyelamatkan istrinya dan pergi ke rumah orangtuanya. Namun rumah orangtuanya ternyata juga sudah rata dengan tanah.

Rumah ibu Waluyo diketahui hanya berjarak sekitar 400 meter dari pusat gempa di pertemuan Sungai Opak dan Oya. Saat itu ada kabut tebal akibat debu karena runtuhnya bangunan. "Listrik mati dan baru hidup sekira dua minggu setelahnya," ucapnya

Pasca-gempa, hujan deras melanda Kabupaten Bantul dan sekitarnya. Sehingga warga pun membuat pelindung dari barang sisa bangunan yang runtuh. Beberapa hari setelahnya bantuan tenda dan peralatan mulai berdatangan.

Sementara Kepala Dusun Potrobayan, Sayudi mengungkapkan di wilayahnya ada 13 orang tewas, 50 sampai 70-an orang lainnya mengalami luka berat dan ringan.

Sebagian besar tertimpa reruntuhan rumah. Memang sebagian besar bangunan di wilayahnya merupakan bangunan lama, sehingga tidak ada yang menggunakan cor, hanya menggunakan campuran pasir.

Sayudi mengisahkan, setelah menyelamatkan keluarganya, dirinya mengontrol warga. Keliling dari RT satu ke RT yang lainnya untuk mendata dan menolong warganya.

"Untuk warga mengungsi di sekitar Kantor BP3KP, untuk warga yang luka dilarikan ke rumah sakit, sementara yang meninggal dunia dimakamkan satu liang lahat tetapi setiap jenazah dipisah skat. Ada yang suami istri diletakkan berjejer," katanya.

Daru Waskita, warga Bantul menceritakan istrinya, Evi Hariyanti, yang sedang hamil tua dan saat itu kurang dua hari dari hari perkiraan lahir. Saat gempa, rumahnya hancur dan istrinya yang tengah hamil bisa menyelamatkan diri. Anak perempuan pertamanya lahir 29 Mei 2006. "Perhitungan dokter istri saya melahirkan pada Senin, Sabtu gempa sempat saya ungsikan ke Wonogiri selama dua bulan dan tinggal di tenda selama 6 bulan," katanya.

Adapun dari data BPBD Bantul jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, Rusak ringan 66.359 rumah. Total korban gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan seperti di Klaten tercatat 5.782 lebih orang meninggal dunia, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh.

Saat ini warga sudah mulai membangun rumah dengan konstruksi yang kokoh. Mulai dari dengan konstruksi cakar ayam dan menggunakan sistem cor.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini