nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Satu Pohon Bambu Bisa Menyuplai Kebutuhan Oksigen Dua Orang

Erika Lia, Jurnalis · Senin 06 Juni 2016 16:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 06 06 525 1407666 satu-pohon-bambu-bisa-menyuplai-kebutuhan-okesigen-dua-orang-mjtPeBaRQm.jpg Pohon Bambu Bisa Menyuplai Kebutuhan Oksigen Manusia (foto: Erika/Koran Sindo)

CIREBON - Budaya menanam pohon di tengah masyarakat cenderung rendah. Padahal, pembangunan pesat di kawasan perkotaan menjadi penyebab berkurangnya oksigen.

Ketua Komunitas Pohon Indonesia (KPI) Kota Cirebon, Abdullah Syukur mengungkapkan, masyarakat cenderung kurang memahami manfaat menanam pohon. Mereka rata-rata tak menyadari, pohon maupun tanaman lain menghasilkan oksigen yang dibutuhkan.

"Manusia membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen/hari. Pohon-pohon keras terutama menghasilkan oksigen besar, seperti trembesi dan bambu," ujarnya, Senin (6/6/2016).

Syukur menjelaskan, trembesi dan bambu merupakan penghasil oksigen terbesar. Dia menyebutkan, satu pohon trembesi atau bambu mampu memproduksi oksigen 1,2 kilogram/hari. Dengan kata lain, satu pohon bambu atau pun trembesi dapat menyuplai kebutuhan oksigen bagi dua orang setiap harinya.

Sayangnya, sekalipun dibutuhkan, produksi oksigen menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat untuk menanam pohon. Tantangan itu, lanjutnya, semakin berat kala menilik pesatnya pembangunan di kawasan perkotaan, khususnya Kota Cirebon sendiri.

"Pembangunan yang tinggi terkadang menggusur ruang terbuka hijau, ditambah lahan kota kerapkali terbatas. Penebangan terhadap pohon dilakukan, ini sama saja dengan menghilangkan oksigen," cetusnya.

Sampai saat ini, pihaknya berupaya menggalakkan budaya menanam pohon. Menurutnya, untuk mengatasi keterbatasan lahan, masyarakat dapat memanfaatkan lahan-lahan tanggung, menanam tanaman gantung, memanfaatkan material bekas seperti botol atau pipa sebagai media tanam, dan lainnya.

"Seperti sungai misalnya, bisa dimanfaatkan untuk menanam bambu. Namun, untuk ini semua harus ada edukasi, sosialisasi, pelatihan, dan pembinaan, kepada publik luas," terangnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon, Abing Rijadi mengakui adanya kendala dalam penghijauan di Kota Cirebon, terutama kala mewujudkan target RTH 20%. Kendala itu tak lain berupa luas wilayah Kota Cirebon yang sempit.

"Yang bisa dilakukan melalui optimalissi lahan-lahan yang ada dengan meningkatkan keteduhan pohon atau lebar kanopi pohon," katanya.

Selain berupaya mengatasi keterbatasan lahan, penghijauan di Kota Cirebon juga menghadapi kendala berupa permasalahan alam. Dia mengungkapkan, tak sedikit pohon yang ditanam membutuhkan pemeliharaan ekstra, terutama saat penanaman dilakukan pada musim kemarau.

Kota Cirebon melakukan pengadaan pohon, minimal ketinggian empat meter, dengan beberapa persyaratan di antaranya jaminan hidup pohon selama tiga bulan. Hal itu mensyaratkan pihak ketiga harus mengganti pohon yang mati sebelum mencapai tiga bulan.

Tahun lalu, DKP sendiri memperoleh alokasi anggaran sekitar Rp2 miliar dari APBD Kota Cirebon untuk tanaman dan taman. Tahun ini, jumlahnya turun menjadi Rp1,5 miliar sehingga pihaknya berupaya mengurangi beban biaya dalam merealisasikan program penghijauan.

"Kami berupaya melakukan pencakokan terhadap pohon-pohon yang sudah besar. Dengan begitu, beban anggaran akan terkurangi," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini