nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Karier Cemerlang Syeikh Hasina meski Tumbuh dalam Ketakutan

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2016 06:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 06 09 18 1410939 karier-cemerlang-syeikh-hasina-meski-tumbuh-dalam-ketakutan-TCaHipGH7B.jpg Syeikh Hasina saat berpidato di depan Majelis Umum PBB (Foto: Jewel Samad/AFP)

SEBAGAI anak Mantan Presiden Pertama Bangladesh mendiang Syeikh Mujibur Rahman, Syeikh Hasina Wazed mengaku tumbuh dalam ketakutan akibat aktivitas ayahnya. Apalagi, ketika kekerasan memuncak di Bangladesh pada 1970, perempuan berusia 68 tahun itu harus mengungsi bersama sang ibu ketika ayahnya berada di tahanan. Ia juga tidak berada di sisi sang ayah ketika Syeikh Mujibur dibunuh pada 15 Agustus 1975.

Sejak itu, Syeikh Hasina tidak diperbolehkan kembali ke Bangladesh hingga dirinya terpilih sebagai Ketua Partai Liga Awami pada Februari 1981. Perempuan kelahiran 28 September 1947 itu akhirnya tiba di tanah kelahirannya pada 17 Mei 1981.

Syeikh Hasina bersama Liga Awami menjadi partai oposisi pada 1986 di Parlemen. Karier politiknya terus berkembang hingga akhirnya menjadi Perdana Menteri (PM) Bangladesh pada 1996. Ia menjadi perempuan kedua yang menjabat sebagai PM setelah Khaleda Zia pada 1991. Syeikh Hasina pun berhasil menyelesaikan masa jabatannya hingga lengser pada 15 Juli 2016.

Kiprahnya tidak berhenti di situ. Syeikh Hasina kembali menjadi oposisi bagi pemerintahan bersama Partai Liga Awami dari periode 2001-2008. Ia juga pernah hampir menjadi korban tewas pada 2004 ketika serangan granat terjadi di perkumpulan Partai Liga Awami di Dhaka pada 21 Agustus.

Namun, semuanya itu tidak menghentikan langkahnya untuk menjadi PM Bangladesh untuk yang kedua kalinya pada 2009. Sejak itu, Hasina memimpin sedikitnya 162 juta warga Bangladesh hingga kini. Ia pun dinobatkan sebagai salah satu perempuan berpengaruh di dunia versi Majalah Forbes keluaran Senin 6 Juni 2016. Syeikh Hasina ditempatkan pada peringkat 36 dari 100 orang perempuan.

Meski begitu, negara dengan populasi terbesar nomor delapan di dunia itu tidak jua lepas dari aksi kekerasan. Pemerintahan Syeikh Hasina bahkan mendapatkan kritik karena seharusnya mampu menggunakan pengaruh untuk menghentikan kejahatan terhadap wartawan, guru, dan aktivis gay. Namun, pemerintahannya memilih bungkam dan menolak klaim serangan tidak berasal dari radikal Islam. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan hal bertentangan dengan klaim tersebut.

(wab)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini