Share

Samantha Power, Dubes Termuda AS untuk PBB Pemenang Pulitzer

Silviana Dharma, Okezone · Jum'at 10 Juni 2016 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 10 18 1411288 samantha-power-dubes-termuda-as-untuk-pbb-pemenang-pulitzer-UXLZzrWhwQ.jpg Samantha Power. (Foto: Getty Images)

SELIBERAL apa pun paham suatu negara, peran ganda perempuan tetap saja ada. Samantha Power adalah salah satunya. Perempuan warga negara Amerika Serikat (AS) ini bebas mengejar kariernya, mulai menjadi seorang pewarta yang wara-wiri memburu berita hingga kini duduk menjadi duta besar AS untuk PBB. Di samping itu, dia tetap seorang ibu dari dua anak yang usianya masih di bawah 10 tahun.

Menjadi utusan suatu negara tentulah bukan hal mudah, apalagi di sini dia menjadi perwakilan dari suatu negara adidaya yang banyak campur tangan dalam urusan dunia. Sejak ditunjuk menjadi dubes termuda AS pada Agustus 2013, Power telah memasang badan untuk negaranya membicarakan kebijakan dan resolusi-resolusi untuk Suriah, Korea Utara, dan urusan luar negeri lain, yang tidak sedikit merupakan bidang pembahasan yang berbahaya dan sensitif.

Akan tetapi, pemenang penghargaan Pulitzer 2003 (atas bukunya yang berjudul ‘A Problem from Hell: America and the Age of Genocide’) itu mampu berdiri tegak dan berbicara dengan lugas kepada dunia. Majalah Forbes bahkan menyebutnya sebagai kompas moral bagi diplomasi AS.

“Dia telah menjadi pejuang yang kuat untuk kebijakan luar negeri AS serta perjuangan hak asasi manusia dan demokrasi sejak dia menjabat pada 2013. Power menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan perhatian komunitas internasional, bersama-sama memerangi ISIL atau ISIS,” demikian penilaian Forbes, Jumat (10/6/2016), dalam menobatkan Power sebagai perempuan paling berpengaruh ke-40 dari 100 di dunia dan ke-15 dari 26 perempuan pemimpin politik di dunia per Juni 2016.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

ISIS menurut mantan juru kampanye Presiden Barack Obama ini adalah ancaman global. “Setiap hari kita melihat bagian baru (terorisme) di Eropa, Afrika Utara, Sub-Sahara Afrika, dan sekarang di Asia Selatan. Semua orang harus andil (memerangi terorisme ISIS). Banyak hal yang bisa dilakukan, tidak hanya melalui aksi militer.”

Ketika menghadiri acara tahunan keempat yang digelar Forbes, yakni pertemuan tingkat tinggi perempuan pada Mei 2016, Power menegaskan, “Ada banyak hal yang terjadi di suatu tempat, tidak terbatas pada tempat itu. Tidak ada lagi dinding yang bisa dibangun untuk melindungi kita. Akan tetapi, AS tetap harus menjadi satu-satunya yang memimpin. Anda tidak bisa mengisolasi diri Anda dari apa yang terjadi (di dunia saat ini).”

Lebih dari 60 juta orang kehilangan rumahnya pada 2016, jumlah tersebut lebih banyak dari yang pernah terjadi semasa Perang Dunia II. Faktanya, menurut Power, hal tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

“(Melihat krisis di sekitarnya,) para pemimpin dunia (tetap) bisa berjalan dengan kekebalan hukum. Saya berpikir, mungkinkah suatu hari mereka akan bisa dipenjarakan (untuk kejahatannya). Radovan Karadzic, mantan politikus Serbia yang memimpin genosida terorganisasi pertama di Eropa pasca-PD II, akhirnya didakwa di Den Haag pada Maret ini,” tutur perempuan yang pernah menyebut Hillary Clinton sebagai monster ini.

Berangkat dari kisah Karadzic tersebut, yang diikutinya semasa menjadi jurnalis perang di Yugoslavia, Power yakin keadilan suatu saat pasti akan muncul juga ke permukaan. Akan tetapi, diperlukan tidak hanya upaya dari pemerintah, melainkan semua orang di dunia bersatu bahu-membahu untuk mewujudkannya, melakukan hal-hal yang lebih besar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini