nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dua Polisi Jadi Tersangka, Kasus Tewasnya Tahanan Polres Tobasa Janggal

Erie Prasetyo, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2016 15:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 06 21 340 1421272 tahanan-tewas-di-sel-polres-tobasa-dua-polisi-jadi-tersangka-lhyFMPodx3.jpg Ilustrasi

MEDAN - Dua anggota Polres Tobasa, Brigadir Linton Chandra Panjaitan dan Brigadir Marco Panata Purba sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tewasnya seorang tahanan bernama Andi Pangaribuan (31).

Warga Kelurahan Pintu Bosi, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara itu awalnya dinyatakan tewas karena gantung diri oleh Polres Tobasa di sel tahanan pada Sabtu, 6 November 2015.

Namun pihak keluarga yang tidak percaya kemudian melaporkan dugaan tindak pidana pembunuhan ke Polda Sumut pada 30 November 2015 atau empat hari setelah kematian Andi Pangaribuan.

Seorang anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan, yang dari awal mengikuti perkembangan kasus tersebut mengatakan, kejanggalan kasus dugaan pembunuhan itu sudah terlihat pada awal penangkapan Andi yang dilakukan personel Polres Tobasa.

Sutrinso menceritakan kronologi penangkapan yang diperolehnya dari keluarga Andi. Saat itu, Andi yang merupakan seorang sopir di pabrik PT Hutahaean dalam perjalanan usai mengantar gaji karyawan bersama empat rekannya pada malam hari di November 2015.

Ketika mereka berhenti karena jalan rusak di Desa Batu Moror, Kecamatan Silaen, Tobasa, tiba-tiba didatangi tiga polisi yang menunjukkan surat penangkapan atas kasus narkoba terhadap Andi. Personel polisi langsung menyuruh Andi turun dari mobil.

"Hanya korban saja yang ditunjukkan surat penangkapan itu, rekan yang lain tidak melihat. Rekan Andi yang ada di dalam mobil juga tidak diizinkan untuk turun dari mobil. Polisi menahan pintu mobil agar rekan Andi yang di dalam mobil tidak keluar," jelas Sutrsino di Medan, Selasa (21/6/2016).

Setelah Andi keluar dari mobil, Andi langsung digeledah di hadapan rekan-rekan nya yang melihat dari dalam mobil. Dari penggeledahan itu, polisi tidak menemukan barang bukti.

“Andi digeledah, bahkan dompet yang ada di dalam mobil juga diperiksa. Tapi tidak ditemukan narkoba. Akhirnya Andi dibawa ke belakang mobil. Di sana Andi sempat teriak mengatakan "jangan rekayasa kasus ini pak". Namun di belakang mobil tiba-tiba polisi mendapati satu linting ganja," tambah Sutrisno.

Akhirnya, Andi diborgol dan dibawa ke kantor Polsek Silaen dengan mobil polisi. Di sana keempat rekan Andi mengikuti dari belakang dengan mobil yang mereka tumpangi. Di kantor Polsek Silaen, barang bukti narkoba yang dimaksud oleh polisi tidak ditunjukkan kepada rekan Andi.

Karena Andi sudah diborgol dan akan dibawa ke Polres Tobasa, akhirnya keempat rekan korban pun beranjak pulang ke pabrik PT Hutahaean di Desa Pintu Bosi, Kecamatan Laguboti. Namun hanya berselang satu hari dari penangkapan tersebut, Andi dikabarkan meninggal dunia dengan posisi tergantung dengan baju di sel tahanan.

"Seorang polisi awalnya mengabarkan Andi sudah dibawa ke Polres Tobasa. Kemudian, besoknya Andi dikabarkan sudah meninggal. Dia tergantung dengan baju di sel tahanan, tapi itu bukan baju Andi. Dan kalau dia gantung diri pasti lidahnya keluar, tapi jasad Andi tidak seperti itu," terang Sutrisno.

Setelah Andi tewas, kecurigaan keluarga pun muncul. Keluarga menduga Andi tewas bukan karena gantung diri melainkan karena tewas dianiaya. Menurut Sutrisno, kejanggalan lain yang muncul yakni upaya Polres Tobasa yang berulang kali menyarankan pihak keluarga agar tidak melakukan autopsi tubuh Andi.

Kendati demikian, keluarga tetap bersikukuh untuk mengautopsi tubuh Andi. Akhirnya setelah diautopsi, keluarga melaporkan kasus dugaan pembunuhan dengan korban Andi ke Polda Sumut.

Kecurigaan keluarga Andi terjawab, setelah beberapa bulan dilakukan pemeriksaan, dua persnonel kepolisian yang diduga membunuh Andi, yakni Brigadir Linton Chandra Panjaitan dan Brigadir Marco Panata Purba ditetapkan sebagai tersangka oleh Subdit III/Jahtanras Dit Krimum Polda Sumut.

Namun tidak sampai disitu saja, Sutrisno juga mengatakan untuk mengetahui motif pembunuhan Andi, Polda Sumut juga harus memeriksa Kapolres Tobasa terkait kasus pembunuhan tersebut.

"Semua perintah pasti berasal dari atasan. Atasan mereka (dua tersangka) adalah Kasat Narkoba, sedangkan atasan Kasat Narkoba adalah Kapolres. Tidak mungkin seorang tahanan ditahan tanpa laporan ke Kapolres. Sehingga kasus ini Kapolres Tobasa juga harus bertanggungjawab. Kita juga belum tahu apa motif pembunuhan Andi," tandas Sutrisno.

Terpisah, saat dikonfrimasi mengenai kasus pembunuhan tersebut ke Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian, belum bersedia memberikan keterangan. "Datang ke kantor besok jam 07.00 WIB pagi ya," jawab AKBP Jidin melalui pesan singkat.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini